Minggu, 08 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Hadapi Era Disrupsi, Ekonomi Kreatif Jadi Solusi

04 Oktober 2019, 23: 36: 07 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi

Ilustrasi (DOK/JPC)

Share this      

SURABAYA - Menghadapi era disrupsi yang mana masyarakatnya mulai menggeser sebagian aktivitas ke dunia maya membuat Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menilai jika sektornya mampu menjadi solusi. Apalagi didukung oleh kemunculan beragam startup di kalangan generasi milenial yang mampu memaksimalkan pesatnya perkembangan teknologi.

“Melalui 16 sub sektor yang dimiliki oleh Bekraf, beragam inovasi dan ide kreatif terus tercipta untuk menjawab tantangan era disrupsi,” ungkap Deputi Infrastruktur Bekraf Hari Santosa Sungkari.

Menurut data Mapping & Database Startup Indonesia tahun 2018, Bekraf mencatatkan ada sekitar 992 startup yang tersebar di kota-kota se-Indonesia. Jabodetabek memiliki kontribusi tertinggi dengan raihan 52,6 persen atau  522 startup di wilayahnya.

Sementara itu, Jawa Timur (Jatim) berada di peringkat kelima dengan jumlah startup sebanyak 113. “Dari ratusan startup yang terdata, startup didominasi oleh bidang e-commerce. Menyusul financial technology (fintech), game, dan bidang-bidang usaha lainnya,” tambahnya.

Oleh karena itu, dengan banyaknya kesempatan bagi anak-anak muda untuk berkreasi, diharapkan mampu menambah rasio jumlah wirausahawan. Hingga saat ini wirausahawan di Indonesia baru mencapai 2 persen dari total penduduk. Padahal idealnya adalah 4 persen agar nantinya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Senada dengan Hari, Bhima Yudhistira juga memastikan jika era disrupsi bakal diwarnai oleh  perkembangan industri kreatif. Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) ini mencontohkan, pesatnya perkembangan teknologi membuat wirausahawan berpikir kreatif agar tak tergerus. “Kuncinya memang tidak hanya memfokuskan perubahan dari sisi bisnis saja. Tetapi juga dari sisi konsumen,” terang Bhima.

Menurut dia, seorang wirausahawan harus paham bagaimana tren yang diinginkan konsumen saat ini. Selain itu, menangkap peluang bisnis baru juga menjadi tantangan para wirausahawan. Bhima mencontohkan, hadirnya e-commerce membuka peluang bagi bisnis-bisnis yang mungkin sebelumnya tidak terpikirkan.

“Nilai transaksi dari e-commerce diperkirakan mencapai Rp 100 triliun per tahun, namun kontribusi terbesar tidak datang dari online marketplace, tetapi dari sosial media. Seperti jasa titip (jastip) yang sekarang ini sedang marak di Instagram. Siapa yang menyangka jika bisnis tersebut akan meraup untung, dan hal-hal kreatif seperti itulah yang harus dipikirkan oleh generasi saat ini agar mampu bertahan di era disrupsi,” pungkasnya. (rul/nur)

(sb/rul/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia