Kamis, 14 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Rumah Tapak atau Apartemen Sama-Sama Diburu Konsumen

03 Oktober 2019, 19: 05: 16 WIB | editor : Wijayanto

DEMAND BAGUS: Pembangunan proyek apartemen di kawasan Surabaya Timur. Milenial dan keluarga muda menjadi pasar potensil bagi properti kelas menengah.

DEMAND BAGUS: Pembangunan proyek apartemen di kawasan Surabaya Timur. Milenial dan keluarga muda menjadi pasar potensil bagi properti kelas menengah. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Minat masyarakat untuk membeli hunian, baik itu rumah tapak atau apartemen masih berada di kisaran harga Rp 400 – 600 juta. Hal tersebut dibenarkan oleh Ketua DPD Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (Arebi) Jawa Timur Rudy Susanto.

Menurutnya, dengan kisaran harga tersebut, generasi milenial yang sedang merintis karir dapat membuat skema pembiayaan yang sesuai dengan pendapatannya. “Kalau cari di Surabaya memang jumlahnya sudah langka. Kalau pun ada, ukurannya kecil,” terangnya saat dihubungi Radar Surabaya beberapa waktu lalu.

Tak hanya diincar generasi milenial, rumah tapak dengan harga tersebut juga menjadi incaran para keluarga muda yang ingin punya tempat tinggal sendiri. “Jadi dari sisa pendapatannya, mereka masih bisa untuk mencicil harga properti itu,” tambahnya.

Sedang untuk apartemen, Rudy merujuk ke apartemen dengan tipe studio yang menjadi jenis paling banyak menjadi incaran. Harganya pun berkisar di angka Rp 300 juta. Namun semakin berkembangnya tren hunian vertikal membuat para pengembang semakin kreatif dalam berinovasi.

Tak hanya menawarkan desain apartemen dengan satu lantai, kini model dua lantai atau loft juga menjadi idaman. “Mereka, khususnya generasi milenial yang berprofesi sebagai entrepreneur, pasti memilih apartemen dengan konsep ini. Karena selain ukurannya lebih besar, tinggal di unit tipe loft memberi kesan seperti berada di rumah tapak dengan dua lantai,” jelas Rudy.

Pendapat senada juga disampaikan Njo Anastasia. Penilai publik untuk properti ini mengatakan, hunian yang berkisar di harga Rp 500 juta masih menjadi incaran karena dorongan kebutuhan. Apalagi beberapa kebijakan pemerintah, menurut dia, dinilai dapat membawa pertumbuhan positif untuk tren investasi dalam bentuk hunian.

“Di antaranya kebijakan terkait penurunan suku bunga BI sebesar 25 basis points (bps) menjadi 5,25 persen serta kelonggaran sebesar 5 persen untuk KPR rumah kedua atau lebih,” pungkasnya. (rul/nur)

(sb/rul/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia