Kamis, 14 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

BEI Berharap 75 UKM Bisa IPO Tahun ini

03 Oktober 2019, 18: 09: 07 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi IPO

Ilustrasi IPO (DOK/JPNN)

Share this      

SURABAYA - Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan sebanyak 75 Usaha Kecil dan Menengah (UKM) nasional hingga akhir tahun 2019, dapat bergabung dengan bursa efek.

Sementara sampai saat ini, pihaknya masih mencatatkan capaian 30 UKM yang bergabung. Di Jawa Timur sendiri baru ada tiga UKM yang melakukan Initial Public Offering (IPO). Padahal jumlah UKM di Jatim telah mencapai lebih dari 6 juta.

Menurut Head of Representative Office East Java IDX Dewi Sriana, masih sedikitnya pelaku UKM yang belum melakukan IPO dikarenakan mayoritas banyak yang belum memahami apa itu bursa efek. “Padahal setelah mereka bergabung, mereka akan dapat banyak manfaat,” tuturnya, belum lama ini.

Lebih lanjut, Dewi menjelaskan bagi perusahaan yang sudah go public, bisa mendapatkan pendanaan tidak terbatas yang nantinya dapat digunakan untuk meningkatkan kapasitas usaha dan mempercepat pertumbuhan perusahaan. Selain itu, juga memudahkan perusahaan untuk melakukan ekspansi dan perkembangan bisnis. “Apalagi untuk mendapat mitra kerja strategis,” tambahnya.

Sebab, dengan adanya keterbukaan informasi, maka investor dan mitra kerja dapat menemukan perusahaan yang cocok untuk diajak kerja sama. Untuk menggenjot pertumbuhan jumlah UKM agar menjadi IPO, BEI melakukan berbagai upaya untuk memfasilitasi para pelaku UKM. Di antaranya memberlakukan Peraturan Nomor I-V.

Yang mana peraturan tersebut berfungsi sebagai pencatatan baru untuk perusahaan dengan aset skala kecil dan menengah yang ingin menjadi perusahaan tercatat di BEI. “Dalam belied yang mulai berlaku 22 Juli 2019 ini, di dalamnya berisikan ketentuan khusus pencatatan saham di papan akselerasi,” ungkap Dewi.

Sebelumnya, papan pencatatan saham bursa hanya dibagi dua. Yakni papan utama dan papan pengembangan. Dewi menjelaskan jika di papan akselerasi, perusahaan kecil dan menengah yang masuk di dalamnya hanya memiliki persyaratan yaitu punya laba usaha.

Sedangkan di papan pengembangan mengharuskan perusahaan telah berjalan minimal satu tahun. “BEI berharap adanya papan akselerasi di peraturan baru ini dapat memudahkan UKM agar menjadi IPO,” pungkasnya. (rul/opi)

(sb/rul/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia