Minggu, 08 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Peringati Hari Batik, Khofifah Mengaku Sebagai Batikholic

03 Oktober 2019, 15: 48: 27 WIB | editor : Wijayanto

BATIKHOLIC: Gubernur Khofifah Indar Parawansa ternyata pecinta berat kerajinan batik.

BATIKHOLIC: Gubernur Khofifah Indar Parawansa ternyata pecinta berat kerajinan batik. (NET/INSTGRAM KHOFIFAH)

Share this      

SURABAYA – Menyambut Hari Batik Nasional, yang jatuh pada setiap tanggal 2 Oktober, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengaku bahwa dirinya adalah Batikholic. Bahkan ia menyatakan koleksi batik yang dimilikinya berasal hampir dari seluruh wilayah Indonesia.

Ia menerangkan batik tidk hanya sekadar kain bermotif. Sebaliknya, batik disebutnya sebagai identitas sekaligus alat pengikat dan perekat persatuan bangsa.

Mantan Menteri Sosial ini menambahkan bahwa menjaga dan melestarikan batik adalah salah satu bentuk ungkapan kecintaan kita kepada kesenian dan budaya nusantara. Terlebih, Unesco telah menetapkan batik sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada 2 Oktober 2009 silam.

“Saat kunjungan ke daerah, saya berusaha menyempatkan ke sentra perajin batik dan membelinya. Tidak cuma dikoleksi, tapi juga saya pakai,” ungkapnya, Rabu (2/10).

Khofifah mengatakan, tersebarnya perajin batik dari Sabang sampai Merauke menjadi bukti bahwa batik mampu menjadi alat pemersatu bangsa. Meskipun berakar dari Jawa, kata dia, batik telah meluas menjadi budaya Indonesia dan diproduksi di berbagai daerah dengan motif dan ciri khasnya masing-masing.

Di Jawa Timur sendiri, sedikitnya terdapat delapan daerah yang dikenal sebagai penghasil batik. Yaitu, Madura, Tulungagung, Mojokerto, Sidoarjo, Ponorogo, Banyuwangi, dan Tuban. Ragam corak dan motif dari daerah tersebut tidak sama meski sama-sama dari Jawa Timur.

“Sebagai anak bangsa ada baiknya kita mengerti segala hal terkait batik, baik asal usul, teknik pembuatan, motif, serta maknanya. Mulai saja dulu dari batik di daerahnya masing-masing,” paparnya.

Pemprov Jawa Timur tengah berupaya mengangkat pamor batik asal Jatim tidak hanya di level nasional, namun juga luar negeri dengan peningkatan mutu produk. Tentunya ini butuh dukungan seluruh masyarakat Jatim. "Ayo support mereka (pengrajin batik) dengan membeli dan memakai produknya," pungkas Khofifah.(mus/rak)

(sb/mus/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia