Kamis, 14 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Suami Ancam Bunuh Diri Kalau Dicerai

03 Oktober 2019, 04: 05: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Jika biasanya bunuh diri dijadikan alasan untuk lepas dari permasalahan, beda dengan Donwori, 31. Yang menjadikan bunuh diri sebagai taktik untuk mempertahankan pernikahan. Meski kesannya main-main sama nyawa, ya terserah saja, sih. Namanya juga usaha. 

Ismaul Choiriyah-Wartawan  Radar Surabaya

Meskipun terkesan konyol. Sungguh, drama rumah tangga antara Karin, 28,dan Donwori sama sekali tak lucu. Dramatis penuh derita. 

Jadi begini. Karin menikahi Donwori sudah empat tahun lamanya. Di waktu yang bisa dibilang cukup lama itu, Karin tak pernah merasa bahagia. Karena Donwori adalah tipikal suami toxic. Yang setiap harinya cemburuan dan curigaan. Dan kalau sudah begitu, ia tak akan sungkan untuk main tangan. 

Di awal-awal pernikahan, tentu Karin terkejut dengan perubahan sikap suaminya. Pasalnya, Donwori ini manis sekali di awal-awal kenalan. Cenderung sopan, tidak banyak berulah.

"Cuma, waktu itu, aku ngrasa arek iki medeni. Pernah  suatu saat kencan, dulu pas zaman pacaran. Terus ada sesuatu yang membuatnya marah. Areke meneng ae, Mbak. Lek wes ngono, aku wes gak wani umek," cerita Karin di kantor Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya.

Sejurus kemudian Karin dan Donwori menikah. Kok ya…, waktu itu menikahnya gara-gara MBA (married by accident)  alias kecelakaan duluan. Otomatis, pasangan baru ini langsung jadi bahan cibiran. Dulu, karena tak kuat dikata-katai tetangga julid, Karin mengiyakan ajakan Donwori untuk merantau.

Keduanya tinggal di sepetak kontrakan kecil di Cimahi. Pindahlah keduanya ke sana. Karin pikir, kehidupannya akan bahagia. Oh rupanya tidak. Malah di sanalah, posisi jauh dari orang tua, Karin menerima siksaan yang tak habis-habis.

"Dulu ya lega, Mbak. Soalnya di kampong, saya sudah gak berani keluar rumah. Tak putus silaturahmi dengan siapa pun dulu, malu. Pikirku, aku di tempat yang baru bisa keluar lagi, punya kenalan lagi. Eh ternyata, saya malah dikurung di sini. Gak boleh keluar, takut punya selingkuhan lagi. Kerja pun gak dibolehin," ujarnya. 

Karena merasa hidup seakan mati, kesenangan dibatasi, kehidupan sosial dikebiri, dipukuli lagi, Karin tak kuat lagi. Karin pun akhirnya meminta untuk cerai. Namun, ketika usulan bercerai keluar dari mulutnya, Karin langsung kena tampar tiga kali di pipi. 

Donwori murka. Ia tak menyangka kata-kata pisah itu diusulkan oleh istrinya. Karin yang akan ditampar untuk keempat kalinya pun bangkit berdiri. Ia cari sudut rumah untuk selamatkan diri. Sayang, Donwori yang terbakar api langsung menghampirinya, dengan menarik satu bilah pisau yang ada di meja makannya. 

"Waktu itu dia mengancam, kalau mau cerai ya cerai saja. Tapi, tak pastekno awakmu gak ngarah pede rabi maneh setelah pisah mbek aku," ungkap Karin meniru kata-kata Donwori.

Ya, kala itu Donwori mau melukai Karin. Menodai kecantikannya. Tak menyerah, Karin pelan-pelan menuju pintu untuk kabur. Namun lagi-lagi Donwori menyergap ke muka pintu. Kali itu ancamannya berbeda. Ia mengatakan, kalau sampai Karin berani kabur dari rumah, ia akan menghunuskan pisau itu ke tubuhnya. Dan menuliskan pesan kalau ia disiksa oleh Karin. 

Mengapa Donwori sepercaya itu pun ada alasannya. Karena latar belakang Karin dulu, sebelum dinikahi Donwori adalah seorang wanita panggilan om-om. "Trus Wori ngomong. Lek polisi ngerti sopo kon, pasti polisi percoyo mbek alibiku," ujar Karin menirukan Donwori. 

Merasa omongan Donwori ada benarnya, Kala itu Karin langsung ngedem Donwori. Meminta maaf dan menarik usulan cerainya. Alasannya antara takut mati dan takut tertangkap polisi secara konyol. 

Namun rupanya, maaf itu juga hanya alibi Karin. Karena sebenarnya, ia sudah merencanakan kabur beberapa hari setelahnya. Di suatu pagi yang tenang, ia buatkan sarapan ke Donwori sebelum kerja. Ia bahkan dengan mesranya sempat meminta cium Donwori pagi itu.

Namun setelah Donwori berangkat, ia melancarkan aksinya. Ia pergi ke bank, mencairkan uang di rekening Donwori. Dan kabur ke kota lain dan bersembunyi. Segala akses dengan Donwori ia putus dengan ganti nomor hape dan memblokir segala sosial medianya.

"Aku kabur ke Bandung nak omahe sahabatlu sing Donwori gak pernah ngerti. Tinggal di sana hampir enam bulan, sampek dia kesel nggoleki aku," pungkas Karin yang mengaku hingga saat ini masih main kucing-kucingan. Bahkan ketika mengurus cerai ini. (*/opi) 

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia