Jumat, 18 Oct 2019
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Sidoarjo

Hasil Anev Pelanggaran Lalin, 9 Ribu Pengendara Tidak Bawa SIM

02 Oktober 2019, 12: 15: 36 WIB | editor : Wijayanto

PENERTIBAN: Operasi Simpatik yang digelar beberapa waktu lalu.

PENERTIBAN: Operasi Simpatik yang digelar beberapa waktu lalu. (ISTIMEWA)

Share this      

SIDOARJO - Analisis dan Evaluasi Tindak Pelanggaran Lalu Lintas (Anev Dakgar Lantas) Polresta Sidoarjo dalam sebulan ini mencapai 24.430 kasus. Jumlah terbanyak dikantongi pada pelanggaran yang berbuntut bukti pelanggaran (tilang) dengan jumlah 24 ribu tilang. Selebihnya dalam bentuk teguran.

Kepala Satuan Lalu Lintas (Kasatlantas) Polresta Sidoarjo Fahrian Saleh Siregar mengungkapkan jumlah terbanyak dakgar dilakukan oleh pengendara sepeda motor.

Dalam sebulan terdapat 23.034 kasus. Disusul pengendara MPU dengan total 488 kasus. Selebihnya kendaraan minibus, truk, dan bak terbuka. “Jumlah ini meningkat dari bulan lalu,” ujarnya.

Untuk jenis pelanggaran yang kerap terjadi adalah tidak membawa Surat Izin Mengemudi (SIM) dengan jumlah 9.832 kasus.

Disusul pelanggaran rambu-rambu dengan jumlah 5.347 kasus dan tidak memakai perlengkapan keselamatan seperti helm dengan jumlah 3.507 kasus. Serta melanggar marka jalan dengan total 3.020 kasus. “Rata-rata pengendara motor,” terangnya.

Pihaknya mengaku selalu menekan jumlah tindak pelanggaran lalu lintas di Sidoarjo. Upaya yang terus dilakukan adalah sosialisasi, operasi, dan hunting system. Dalam upaya yang dilakukan diharapkan memberi efek jera sehingga pengendara dapat tertib berlalulintas ke depannya. Untuk jumlah dakgar ranmor dalam sebulan ini turun dengan total 97 kasus. “Demi mewujudkan Sidoarjo tertib berlalulintas,” imbuhnya.

Ada yang menarik dari upaya menekan jumlah dakgar. Salah satunya dengan hunting system. Menurutnya, dalam operasi ini pihaknya tidak melalui cara operasi. Melainkan petugas bergerak sambil memantau pengendera yang secara kasat mata terbukti melanggar.

Sasarannya adalah menggunakan ponsel saat berkendara, tidak memakai helm, melawan arus, pengendara belum cukup umur, berboncengan lebih dari satu, kelebihan muatan, dan kendaraan yang menggunakan rotator atau sirine. “Ini yang sedang kami genjot,” pungkasnya. (hil/nis)

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia