Jumat, 06 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Sidoarjo

Industri Katering Harus Luwes Demi Pertahankan Eksistensi

02 Oktober 2019, 12: 06: 49 WIB | editor : Wijayanto

BERSAING: Waiters katering tengah melayani tamu yang hadir di salah satu acara pernikahan.

BERSAING: Waiters katering tengah melayani tamu yang hadir di salah satu acara pernikahan. (ISTIMEWA)

Share this      

SIDOARJO - Tahun 2019 dirasakan menjadi tahun terberat bagi para pengusaha. Dimana harga bahan pokok dan bahan baku produksi yang mahal, harga barang dan jasa melambung, sehingga menyebabkan daya beli masyarakat juga melemah. 

Hal tersebut tenyata juga berdampak pada bisnis katering industri di Sidoarjo. Pemilik Pelangi Catering dan Wedding Organizer Gunawan Hendro menyampaikan, tahun ini menjadi tahun terberat. Namun, menurunnya daya beli masyarakat sebenarnya sudah dirasakan sejak tahun 2017. 

“Di tahun 2017, sudah turun 30 persen. Di tahun 2018, turun 40 persen. Tahun ini turun 50 persen,” kata Gunawan dijumpai di kantornya di Magersari.

Dalam setahun, ada empat bulan yang menjadi pangsa pasar bagus bagi bisnis katering. Sehingga dalam sebulan tersebut, Gunawan bisa menerima pesanan 30 sampai 50 acara. Di bulan normal, bisa melayani 10 sampai 15. “Padahal dulu masih berada diatas 20 event per bulannya,” imbunya. 

Ini belum diperparah dengan biaya lain yang harus dikeluarkan. Seperti biaya transportasi dan biaya charge gedung. “Ada gedung yang menarik retribusi terpisah untuk katering. Biasanya 15 persen dari laba yang kami dapat. Sekitar Rp 2,5 juta,” ujar pria yang memulai bisnis katering sejak 2004 itu.  

Gunawan mengatakan, saat ini untuk mempertahankan eksistensi di tengah lemahnya perekonomian, industri katering tak boleh kaku. 

“Kita harga bersaing. Misal ada customer yang datang kesini bawa brosur tahun lalu, kita kasih harga sesuai brosur. Jadi kita enggak boleh kaku. Nanti mereka lari. Harga bersaing, rasa tetap nomor satu,” ungkap pria asli Surabaya itu. 

Sementara itu, Sutrisno, pemilik Nirwana Catering and Wedding Service untuk menyiasati lesunya ekonomi, dan menekan biaya operasional dirinya mengurangi jumlah personel di lapangan. “Misal biasanya tiga waiters, saya ambil dua aja,” ungkapnya. 

Kemudian, untuk bentuk promosi dirinya sudah tak memakai jasa marketing. Lebih fokus ke media sosial instagram dan brosur yang selalu ia bawa ke setiap acara. 

“Jatuh bangun namanya bisnis kadang rame kadang tidak. Selagi orang kasih kesempatan pada kita harus di pegang. Tanpa marketing pun, kalau klien cocok dengan rasa makan kita, akan kembali. Itu yang kami pegang saat ini,” pungkasnya. (rpp/nis)

(sb/rpp/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia