Jumat, 06 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Risma Dapat Gelar Doktor HC dari Universitas Tongmyong, Busan, Korsel

01 Oktober 2019, 18: 43: 49 WIB | editor : Wijayanto

GO GLOBAL: Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini bersama Rektor Tongmyong University Dr Jung Hong Sup dan guru besar Tongmyong University, Busan, Korsel.

GO GLOBAL: Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini bersama Rektor Tongmyong University Dr Jung Hong Sup dan guru besar Tongmyong University, Busan, Korsel. (ISTIMEWA)

Share this      

BUSAN – Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini kemarin (30/9) menerima gelar doktor honoris causa dari Tongmyong Univercity, Busan, Korea Selatan. Gelar kehormatan itu disematkan atas profesionalisme dan dedikasinya dalam bidang arsitektur.

Wali Kota Risma yang juga Presiden UCLG Aspac itu mengenakan toga Universitas Tongmyong saat menerima gelar doktor HC. Bagi dia, gelar tersebut sudah dua kali dia peroleh dari kampus yang berbeda. Sebelumnya gelar doktor HC diberikan oleh Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya pada 2015.

Dalam sambutannya, Risma mengucapkan terima kasih kepada rektor dan komite Universitas Tongmyong atas penganugrahan gelar doktor HC yang disematkan kepadanya. Ucapan terima kasih juga disampaikan untuk warga Surabaya yang sudah bersama-sama dalam mengembangkan Kota Pahlawan.

"Bapak ibu yang terhormat. Surabaya adalah kota terbesar kedua di Indonesia dengan populasi 3,4 juta jiwa. Kota ini berperan sebagai pusat pengembangan di Indonesia Timur. Itulah mengapa ruang publik menjadi salah satu prioritas kami,” tutur Risma.

Dia menjelaskan ruang publik yang ada di Surabaya sangat beragam. Salah satunya adalah taman kota karena taman merupakan arena rekreasi yang murah dan menunjuang interaksi warganya. Dengan membangun taman kota, maka secara bersamaan dia membangun pula peluang bagi masyarakat untuk saling berinteraksi. “Pembangunan taman ini memiliki banyak manfaat,” kata dia.

Dari tahun ke tahun, luas ruang terbuka hijau di Surabaya terus mengalami peningkatan. Dia memastikan selama tahun 2018, jumlah ruang terbuka hijau mencapai 21,94 persen. Bahkan, Risma juga menjelaskan dalam orasi ilmiahnya tentang penataan kota, taman umum, dan taman di sepanjang tepi sungai menjadi sangat penting.

“Dalam melakukan manajemen perkotaan, memang sangat kompleks karena melibatkan banyak sektor dan pemangku kepentingan,” imbuhnya.

Oleh karena itu, pembangunan yang diakukan harus mampu menjembatani dua aspek. Yaitu aspek fisik dan non-fisik. “Aspek fisik adalah infrastruktur perkotaan, sedangkan aspek nonfisiknya ialah sumber daya manusia dan ekonomi kota,” katanya.

Di kesempatan yang sama, Wali Kota perempuan pertama di Kota Surabaya itu juga memaparkan bahwa Surabaya telah mencapai lebih dari 30 persen ruang hijau publik sesuai dengan undang-undang yang merupakan sinergi dari pemkot. “Ini semua berkat masyarakat dan sektor swasta yang memiliki tujuan sama,” tegas dia.

Sementara itu, Rektor Universitas Tongmyong Dr Jung Hong Sup, mengatakan, Wali Kota Risma adalah seorang birokrat yang berbeda. Setiap pembangunan yang dilakukan tidak hanya sebatas fisik saja, tapi ada falsafahnya. “Bu Risma sangat mencintai hubungan Busan dengan Surabaya. Tidak hanya itu. Pertukaran pelajar dari Kota Surabaya pun sering dilakukan,” kata Jung Hong Sup.

Seusai penyematan gelar, Wali Kota Risma beserta jajarannya menyajikan sebuah pertunjukkan alat musik angklung dengan membawakan beberapa lagu daerah Surabaya. Setelah menyaksikan penampilan itu, Jung Hong Sup memberikan apresiasi tersendiri kepada Wali Kota Risma.

“Suara bambunya terdengar alami sekali seperti suara angin. Bu Risma memilih main bersama dengan stafnya mencerminkan pemimpin yang totalitas, demokratik dan juga sangat ramah," katanya. (rmt/rek)

(sb/rmt/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia