Jumat, 24 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Diduga Mabuk Miras, Preman Ancam Bacok Anak Sekolah

01 Oktober 2019, 17: 06: 43 WIB | editor : Wijayanto

TERSANGKA: Dekky Posuma diamankan polisi beserta barang bukti sajam.

TERSANGKA: Dekky Posuma diamankan polisi beserta barang bukti sajam. (ISTIMEWA)

Share this      

SURABAYA - Dekky Posuma, 39, terpaksa berurusan dengan polisi. Pria yang tinggal di Jalan Uka Gang 19, RT 07 RW 02, Sememi, Benowo tersebut ditangkap setelah dilaporkan Susanto, 56, warga Dukuh Jelidro, Sambikerep.

Dia dilaporkan atas kasus kekerasan fisik terhadap RTM, 16, dan mengancam menusuk korban. Ceritanya, pelaku pada Jumat (27/9) lalu berada di Jalan Raya Tengger di sekitar pom bensin mini milik warga sekitar.

Dia melihat RTM, 16, (korban) duduk di dekat kios pom tersebut.  Tiba-tiba pelaku emosi melihat korban. Pelaku yang bekerja sebagai tukang tagih juga menendang punggung korban satu kali. Informasinya, pelaku terpengaruh miras dan marah saat ditegur korban.

Selaih menghajar korban, pelaku juga mengambil pisau dan menodongkan ke arah wajah korban.  Tak berselang lama, Susanto ayah korban datang. Dia meminta maaf kepada pelaku dan berusaha untuk membujuk pelaku agar tidak menganiaya anaknya.

Setelah anaknya terlepas, keduanya lalu pulang. Lantaran tak terima atas tindakan pelaku, korban melapor ke Polsek Benowo. Setelah mendapatkan keterangan korban dan saksi, polisi mengidentifikasi pelaku. Pelaku selama ini memang dikenal seperti preman.

“Tersangka kami tangkap di kamar kosnya, yang tidak jauh dari TKP saat menganiayan dan mengancam korban,” kata Kanit Reskrim Polsek Benowo Ipda Jumeno.

Saat dibekuk, pelaku tak melawan. Dari kamar tersangka juga diamankan sebilah pisau badik yang digunakan menodong korban. Kepada penyidik, tersangka mengaku kesal melihat ada korban duduk-duduk di sekitar lokasi.

Meskipun korban tak berbuat salah, pelaku sempat mengusir, menendang dan mengancam korban. “Pelaku ini sering marah-marah, apalagi kalau mabuk. Dia mengakuinya semua perbuatan yang dilakukan ke korban,” lanjutnya.

Atas perbuatannya tersangka yang memiliki tatto di lengan kiri itu bakal dijerat pasal 76 C UU RI Nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak dan atau pasal 2 ayat 1 UU Darurat nomor 12 tahun 1951. Ancaman hukumannya maksimal 10 tahun kurungan penjara. (rus/rud)

(sb/rus/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia