Jumat, 18 Oct 2019
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Surabaya

Decoupage Bukan Seni Asal Tempel

01 Oktober 2019, 12: 48: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

Saat ini seni decoupage sedang digandrungi di tanah air.

Saat ini seni decoupage sedang digandrungi di tanah air. (dok)

Share this      

SURABAYA - Pernah mendengar kata decoupage? Nah, kesenian ini memang bernuansa Prancis. Decouper  artinya memotong-motong. Kesenian memotong bahan-bahan dari tisu atau kertas untuk ditempelkan ke medium yang kosong.

Saat ini seni decoupage sedang digandrungi di tanah air. Mulai dari anak muda maupun ibu-ibu rumah tangga. Salah satunya adalah Anna Julia. Menurut dia, decoupage bukan sekadar seni menggunting dan menempel gambar pada objek tertentu, tetapi dibutuhkan teknik-teknik tertentu dalam mengaplikasikan material yang sesuai. 

"Teknik decoupage banyak sekali. Saya sendiri mengajar 40 teknik. Kalau yang belum pernah tahu kadang mereka tidak bisa membedakan," terangnya di Surabaya, kemarin (30/9). 

Anna sudah sejak 6-7 tahun lalu menggeluti seni itu. Bahkan, dia belajar langsung di Bangkok selama satu bulan untuk mengambil sertifikat. Menurut dia, teknik dan bahan decoupage merupakan dua hal yang berbeda. Pasalnya, dua bahan yang berbeda bisa diaplikasikan dengan teknik yang sama. "Tetapi material untuk kayu dan kaca berbeda. Cara finishing-nya juga," ujarnya.

Selain itu, cat yang digunakan untuk kain dan kayu bisa sama dengan pengaplikasian teknik yang berbeda. "Semua orang mengira hanya potong gambar kemudian ditempel. Tetapi sebenarnya untuk background painting itu juga perlu dipelajari. Baru kemudian ditempel gambar," imbuhnya. 

Untuk pemula, Anna menyarankan menggunakan media kayu. Tapi kebanyakan orang memakai tisu. "Lebih mudah mendapatkan bahannya dan tidak ribet. Karena masih pengenalan, mereka belajar menggunting dan menempel, lebih simpel," ujarnya. 

Pemula biasanya membutuhkan waktu empat jam untuk mengerjakan satu set project. "Kalau pemula yang otodidak biasanya pertama belajar memakai napkin di tas pandan, kemudian di kayu, selanjutnya di kaca. Kaca memang paling susah karena tidak ada pori-porinya," imbuhnya. 

Gambar yang ditempel pun memiliki bahan yang berbeda-beda menyesuaikan dengan medianya. "Misalnya, untuk di keramik khusus memakai paper decals. Untuk kayu lebih bervariasi. Kain dan baju biasanya pakai stensil," ujarnya. (cin/rek)

(sb/cin/jek/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia