Senin, 20 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Kasus Masih Tinggi, Arsabapi Tekan Angka Kematian Akibat TBC

28 September 2019, 13: 36: 20 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi TBC

Ilustrasi TBC (DOK/JPNN)

Share this      

SURABAYA - Asosiasi Rumah Sakit dan Balai Paru Indonesia (Arsabapi) terus berupaya menekan angka kematian pasien yang disebabkan oleh tuberkolosis (TBC). Hal ini sejalan dengan target Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terkait eliminasi TBC di tahun 2030. Yakni, angka penurunan penderita sudah sampai 90 persen. Sedangkan penurunan angka kematian lebih dari 95 persen.

Ketua Arsabapi dr. M. Ali Toha menyampaikan, Indonesia menempati posisi ketiga sebagai negara dengan penderita TBC terbanyak. Selain itu, penyakit respirasi juga merupakan penyakit yang banyak diderita masyarakat. Sehingga diperlukan adanya perhatian serius. "Penyakit menahun yang tidak kunjung selesai. Penanggulannya juga tidak kunjung selesai," terangnya saat press conference Kongres Nasional dan Seminar Arsabapi 2019 bertajuk Bersama Tuntaskan Eliminasi TBC dan Turunkan Angka Penyakit Respirasi.

Oleh karena itu, menurutnya, perlu dilakukan berbagai upaya yang mengharuskan untuk bekerja lebih keras lagi untuk menyelesaikan eliminasi penyakit ini. Menurutnya, tahun 2014 menjadi titik awal eliminasi TBC di tahun 2030 mendatang. "Hal ini berarti, sudah lima tahun berbagai upaya telah dilakukan demi mencapai target tersebut," ujarnya.

Untuk itu, Ali berharap, seluruh anggota Arsabapi dapat bersinergi dan berkolaborasi dalam menekan kasus ini. Ke depan, Ali juga berharap, Balai Kesehatan Paru dapat diubah menjadi Rumah Sakit Khusus Paru. Pasalnya, dengan mempertahankan eksistensi lembaga-lembaga yang berkaitan dengan paru dapat mempertimbangkan extra ordinary approach dalam penanganan kasus paru.

Ketua Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia (Persi) Jawa Timur dr. Dodo Anondo menuturkan, keberadaan Arsabapi memberi harapan masyarakat unuk menyelesaikan masalah-masalah yang berkaitan dengan paru.

Hal ini dikarenakan, Rumah Sakit Paru dan Balai Kesehatan banyak memberikan pendekatan kepada masyarakat. Di sisi lain, Dodo juga menekankan terkait akreditasi rumah sakit. Pasalnya, hal ini menunjukkan tingkat kemampuan dalam menangani pasien. "Karena melalui akreditasi ini juga berkaitan dengan pengendalian mutu dan pelayanan," katanya.

Sementara, Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur Kohar Hari Santoso menuturkan, pihaknya juga telah berupaya turut menekan angka penderita TBC, mengingat Jawa Timur menduduki posisi kedua dengan penderita TBC terbanyak.

"Kami telah melakukan Pergi Berdansa di Masa Senja. Itu adalah bagaimana perawat di tingkat desa bekerja sampai ke bawah. Ke pondok pesantren untuk pendampingan poskestren. Konseling dari pintu ke pintu dengan organisasi masyarakat, seperti Muslimat dan Aisyiyah. Berbagai kegiatan dalam rangka meningkatkan pemahaman masyarakat tentang TBC sehingga bersama-sama mengatasi TBC," jelasnya. (cin/nur)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia