Kamis, 23 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Bekraf Kembangkan GSI untuk Pacu Pertumbuhan Startup di Tanah Air

25 September 2019, 17: 51: 39 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Bekraf

Ilustrasi Bekraf (DOK/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA – Kehadiran beragam perusahaan rintisan atau startup di Indonesia membuat Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) terus melakukan upaya untuk mengembangkan ekosistem ini. Apalagi dalam menghadapi revolusi industri 4.0, ide-ide kreatif terus bermunculan seiring pertumbuhan internet user.

Oleh karenanya melalui sebuah platform bernama Go Startup Indonesia (GSI), Direktur Akses Non Perbankan Bekraf Syaifullah berkeinginan agar platform tersebut dapat menjadi suatu wadah bertemunya para startup dan investor.

“Indonesia memiliki segudang masalah sehingga dari permasalahan yang timbul, kehadiran startup mampu memberikan solusi. Misalnya saja, kita punya problem kemacetan. Nadiem Makarim, founder Go-Jek, melihat ada peluang bagus di dalamnya. Dan terciptalah layanan transportasi berbasis ojek online yang sampai saat ini digunakan orang agar terhindar dari kemacetan,” ucapnya saat ditemui di GeCo Coworking Space.

Melalui platform GSI yang masih dalam taraf pengembangan ini, pihaknya akan menempatkan beberapa informasi-informasi yang dibutuhkan oleh startup. Di antaranya investor, event, courses, jobs, coworking space, dan mentors. “Sehingga antara investor dan startup dapat saling memantau kondisi masing-masing,” tambahnya.

Bahkan startup yang tergabung dalam platform GSI memiliki peluang mendapatkan pendanaan dana hingga Rp 100 juta. Selain itu, GSI juga akan fokus untuk meningkatkan literasi keuangan, kemampuan manajerial, penerapan pembukaan bagi pengelola startup. Sehingga nantinya startup dapat melakukan scale up dengan melakukan Initial Public Offering (IPO) menjadi perusahaan terbuka melalui papan akselerasi.

Menurut Syaifullah, perkembangan startup di Indonesia sangat potensial. Di samping pesatnya perkembangan teknologi, jumlah penduduk yang banyak membuat para startup berlomba-lomba untuk menyuguhkan solusi dalam bentuk digital.

“Trennya sekarang ini, bermunculan startup yang masih menyandang status decacom dan hectocorn. Apalagi para investor juga banyak melirik. Beda dengan di tahun 2017 dan 2018 yang mana investor hanya melirik ke startup dengan status unicorn,” ucapnya. (rul/nur)

(sb/rul/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia