Senin, 20 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Kadin Sasar Sektor Pariwisata dan Penerapan OSS untuk Tarik Investor

24 September 2019, 18: 11: 52 WIB | editor : Wijayanto

POTENSIAL: Wisatawan memadati kaldera dan kawasan gunung Bromo. Pariwisata menjadi salah satu potensi yang mampu mendatangkan investor.

POTENSIAL: Wisatawan memadati kaldera dan kawasan gunung Bromo. Pariwisata menjadi salah satu potensi yang mampu mendatangkan investor. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur (Kadin Jatim) terus melakukan beragam strategi untuk menarik investor agar mau berinvestasi di kabupaten/kota yang ada di wilayah Jatim. Salah satunya dari sektor perhotelan dan pariwisata.

Direktur Kadin Institute Jatim Jamhadi mengatakan, Jatim memiliki peluang besar di bidang jasa hotel. “Jumlah hotel baik dari klasifikasi bintang satu hingga bintang lima sangat banyak, namun okupansi masih berada di bawah angka 50 persen. Hal itulah yang menjadi salah satu perhatian bagaimana supaya tingkat okupansi hotel khususnya di Jatim dapat mengalami peningkatan,” jelasnya.

Padahal untuk kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Jatim, data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim mencatatkan jika pada bulan Juli 2019 mengalami kenaikan sebesar 8,61 persen. Dari 23.150 kunjungan pada bulan Juni 2019 menjadi 25.143 kunjungan di bulan Juli 2019.

“Wisman yang datang masih banyak dari Malaysia. Sehingga pihak kami mengusulkan agar ada integrasi antara Jatim dengan Bali karena wisman yang ke sana datang dari berbagai negara,” ujar Jamhadi.

Lebih lanjut dia menjelaskan, Turkish Airlines yang memiliki rute penerbangan internasional dari Istanbul ke Denpasar dapat menjadi peluang besar untuk menarik wisman berkunjung juga ke Jatim. “Tentunya sektor pariwisata kita juga harus gencar melakukan berbagai program promosi,” tambahnya.

Selain dari dua sektor tersebut, Kadin Jatim juga mengedukasi pemerintah kabupaten/kota agar mau menerapkan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik atau Online Single Submission (OSS) di wilayahnya.

“Bagi kabupaten/kota yang ingin belajar tentang OSS bisa langsung datang ke kami. Apalagi manfaat OSS juga besar sekali,” tegasnya.

Sebagai contoh, di Sidoarjo ada proyek prestisius dengan nilai investasi sebesar Rp 500 miliar. Dengan pemerintah kabupatennya menerapkan OSS, maka perizinannya jadi lebih mudah hingga proyeknya bisa segera dikerjakan.

“Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, manfaat OSS itu banyak. Ya salah satunya adalah mempermudah pengurusan berbagai perizinan berusaha. Baik dari segi prasyarat untuk melakukan usaha, izin usaha, maupun izin operasionalnya,” ungkap Jamhadi.

Melalui penerapan OSS, khususnya di Jatim, pihaknya menargetkan Jatim dapat menjadi role model dan kembali menduduki peringkat pertama dari segi kemudahan bisnis di Jatim (ease of doing business) seperti penilaian dari Asia Competitivenes Institute, Lee Kuan Yew School of Public Policy – National University of Singapore tahun 2017 lalu. (rul/nur)

(sb/rul/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia