Jumat, 24 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Tersangka Dugaan Korupsi Jasmas Saling Bersaksi di Kejari Perak

21 September 2019, 14: 08: 36 WIB | editor : Wijayanto

PERIKSA: Tersangka kasus Jasmas 2016, Syaiful Aidi keluar Gedung Kejari Tanjung Perak usai bersaksi, Jumat (20/9).

PERIKSA: Tersangka kasus Jasmas 2016, Syaiful Aidi keluar Gedung Kejari Tanjung Perak usai bersaksi, Jumat (20/9). (GINANJAR ELYAS SAPUTRA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA – Empat tersangka dugaan korupsi dana hibah jaring aspirasi masyarakat (Jasmas) 2016 bersaksi di Kejaksaan Negeri (Jari) Tanjung Perak. Keempatnya antara lain, anggota DPRD Surabaya Ratih Retnowati, dan empat mantan anggota dewan. Yakni, Dini Rijanti, Binti Rochmah dan Syaiful Aidi. 

Mereka diperiksa penyidik sejak pukul 09.00 Wib di Kejari Tanjung Perak. Kasipidsus Kejari Tanjung Perak Dimaz Atmadi Brata Anandiansyah menyatakan, keempat tersangka ini diperiksa sebagai saksi untuk dua koleganya sesama tersangka Jasmas. Yakni, Sugito dan Aden Darmawan.

“Mereka dipanggil untuk memberikan keterangan sebagai saksi untuk tersangka S dan D. Keterangannya masih dibutuhkan untuk melengkapi keterangan di dalam berkas,” ujar Dimaz, Jumat (20/9).

Namun, jaksa penyidik irit bicara. Dimaz hanya menerangkan bahwa mereka ditanyai terkait prosedur pengajuan dana hibah sampai pencairan. Dia enggan berkomentar apakah materi pemeriksaan terkait berapa fee yang mereka terima dari pengusaha Agus Setiawan Jong. Termasuk bagaimana mekanisme pengajuan dana hibah dari para tersangka. “Itu sudah masuk materi penyidikan, nanti saja,” ucapnya.

Sementara itu, pengacara Ratih, Dini, dan Syaiful, Yusuf Eko Nahuddin, pengacara menyatakan, kliennya hanya ditanyai penyidik soal mekanisme Jasmas. Dia membantah bahwa ada materi pertanyaan terkait berapa fee yang diterima tersangka dari pengurusan Jasmas. 

“Tidak ada yang ditanya fee karena mereka sama-sama tidak tahu. Tidak ada sama sekali yang menguatkan tuduhan jaksa,” ungkap Yusuf.

Pengacara Binti Rochmah, Sudiman Sidabukke juga membantah jika kliennya disebut menerima fee. Dia mengaku heran dengan penyidik yang menetapkan Binti sebagai tersangka. Sebab, Binti menurutnya tidak menyalahgunakan jabatannya sebagai anggota dewan untuk berbuat yang menguntungkan diri sendiri dan orang lain. 

“Sepanjang saya mengikuti perkara ini, Bu Binti sama sekali tidak menerima uang sepeser pun,” kata Sudiman.

Dia berdalih bahwa justru Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya yang mestinya bertanggungjawab. “Kualitas barangnya tidak sesuai dengan yang dinyatakan di proposal. Mestinya pemkot terlibat karena mereka yang menyalurkan dan mengevaluasi barang itu,” jelasnya.

Para tersangka ini dinyatakan telah bersekongkol dengan pengusaha Agus Setiawan Jong untuk memark-up dana hibah hingga merugikan keuangan negara Rp 4,9 miliar. Mereka diyakini telah berperan aktif dalam pengajuan dana hibah Jasmas 2016 senilai Rp 12,5 miliar tersebut. 

Mereka tidak sekadar mengetahui dugaan korupsi tersebut, melainkan juga merekomendasikan ketua RT/RW yang akan mengajukan proposal harus melalui Agus Jong. Dari praktik itu, para anggota dewan ini diduga menerima fee 15 persen dari terpidana Agus Jong. Fee itu diberikan untuk setiap proposal yang disetujui Pemkot Surabaya lalu dicairkan. (gin/rud)

(sb/gin/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia