Senin, 09 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

GAPKI: Kampanye Hitam Kelapa Sawit Ganggu Industri

21 September 2019, 14: 02: 55 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi

Ilustrasi (DOK/JPNN)

Share this      

SURABAYA - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) terus berupaya mengedukasi masyarakat terkait pentingnya kelapa sawit dalam memajukan ekonomi Indonesia. Pasalnya, beberapa waktu terakhir, banyak kampanye hitam yang dihembuskan oleh banyak negara penghasil minyak nabati non kelapa sawit.

Hal ini disampaikan Ketua Bidang Komunikasi GAPKI Tofan Mahdi. Menurutnya, masyarakat Indonesia seharusnya bangga dengan kekayaan sumber daya yang dimiliki, salah satunya kelapa sawit. Sedangkan Indonesia merupakan negara penghasil sawit terbesar di dunia.

Tofan menjelaskan, budidaya kelapa sawit mulai dilakukan Nusantara sejak tahun 1878. Hingga saat ini, kelapa sawit terus mengalami perkembangan dengan berbagai produk turunannya. "Pemahaman sawit secara turun temurun harus berjalan dengan baik agar perkebunan dan komoditas tersebut tetap menjadi produk unggulan Indonesia," terangnya.

Bahkan pada tahun 2018, sumbangan kelapa sawit kepada ekonomi Indonesia, yakni kontribusi kepada devisa mencapai sekitar USD 20,54 miliar atau sekitar 14 persen dari total PDRB. Kelapa sawit juga memberikan dampak penyerapan tenaga kerja yang besar. Yakni sekitar 50 juta jiwa yang hidup bergantung dari sawit. "Masih banyak dampak positif lainnya seperti infrastruktur, pendidikan dan lain sebagainya. Apalagi dari total lahan sawit di Indonesia yang mencapai 14 juta hektar tersebut, 43 persen adalah kebun milik rakyat," jelasnya.

Sedangkan saat ini, produksi kelapa sawit Indonesia mencapai 47 juta ton per-tahun. Dari total volume tersebut, 34 juta ton diekspor ke berbagai negara. Namun kondisi ini bisa saja berubah jika kampanye hitam yang dilakukan oleh sejumlah negara penghasil minyak nabati non sawit seperti minyak nabati dari kedelai dan bunga matahari, tidak diimbangi dengan informasi yang benar. "Mereka menyerang dengan berbagai isu, mulai dari isu kesehatan hingga isu lingkungan. Mereka mengatakan bahwa sawit telah membabat habis hutan dunia, padahal kenyataannya lahan sawit di seluruh dunia hanya mencapai 18 juta hektar," ujarnya.

Luas lahan sawit ini jauh lebih sempit dibanding lahan kedelai di seluruh dunia yang mencapai 140 juta hektar dan lahan bunga matahari sekitar 40 juta hektar. Oleh sebab itu, Tofan berharap, generasi milenial dan generasi Z mendapatkan asupan informasi yang benar tentang kelapa sawit dan produk-produk turunannya. "Mereka harus tahu sejarahnya, perkembangan saat ini dan masa depannya," katanya.

Apalagi, hampir setiap hari mereka berkutat dengan produk turunan sawit yang berupa makanan, kosmetik, maupun energi terbarukan. Seperti minyak goreng, margarin, mentega, mie instan, lipstik, sampo dan sabun. Sedangkan energi terbarukan yang dihasilkan dari sawit berupa biodiesel. (cin/nur)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia