Jumat, 18 Oct 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Buah-Buahan Masih Dominasi Impor Jatim

21 September 2019, 13: 57: 56 WIB | editor : Wijayanto

MENINGKAT: Pengunjung memilih buah di salah satu gerai di Surabaya. Buah masih menduduki posisi teratas komoditi impor Jatim.

MENINGKAT: Pengunjung memilih buah di salah satu gerai di Surabaya. Buah masih menduduki posisi teratas komoditi impor Jatim. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Golongan buah-buahan masih mengalami peningkatan nilai impor nonmigas terbesar pada bulan Agustus 2019. Peningkatan angkanya bahkan mencapai USD 29,41 juta, dari yang pada Juli lalu sebesar USD 50,17 juta menjadi USD 75,09 juta.

Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur (BPS Jatim) Satriyo Wibowo mengungkapkan, ada beberapa komoditas buah-buahan yang menjadi penyebab masih tingginya angka impor di wilayah Jatim. “Di posisi pertama ada anggur segar yang mana peningkatannya sampai 180,7 persen dari bulan sebelumnya. Menyusul persik, buah jeruk segar, dan pir,” ungkapnya.

Sebaliknya pada penurunan impor terbesar, BPS Jatim merilis golongan ampas/sisa industri makanan mengalami penurunan dari sebelumnya USD 111,63 juta menjadi USD 70,95 juta.

Secara keseluruhan, impor Jatim pada bulan Agustus 2019 mengalami penurunan sebesar 7,97 persen dibandingkan bulan Juli 2019. Yaitu dari USD 1,99 miliar menjadi USD 1,83 miliar. “Kondisi yang turun ini lebih dikarenakan adanya penurunan kinerja impor nonmigas maupun sektor migas,” ucap Satriyo.

Lebih lanjut dia menjelaskan, jika impor migas mengalami penurunan sebesar 11,77 persen atau setara dari USD 353,86 juta menjadi USD 312,21 juta dibanding bulan sebelumnya. Sedangkan impor nonmigas juga mengalami penurunan. Yakni sebesar 7,15 persen, dari USD 1,64 miliar menjadi USD 1,52 miliar.

“Dari sepuluh golongan barang impor nonmigas, ada tiga golongan yang menjadi penyumbang nilai impor transaksi terbesar di Jatim selama bulan Agustus 2019,” tuturnya. 

Di antaranya golongan mesin-mesin/pesawat mekanik dengan nilai transaksi sebesar USD 195,34 juta, golongan besi dan baja sebesar USD 151,50 juta, serta golongan plastik dan barang dari plastik sebesar USD 121,13 juta. “Ketiga golongan impor nonmigas ini utamanya masih diimpor dari Tiongkok,” pungkas Satriyo.

Sementara itu, neraca perdagangan Jatim selama bulan Agustus 2019 mengalami surplus sebesar USD 60,12 juta. Menurut Satriyo, hal tersebut cukup menggembirakan. Pasalnya surplus baru terjadi pas bulan Agustus 2019 ini. “Surplus ini lebih disebabkan karena adanya selisih perdagangan yang positif pada sektor nonmigas,” tutup Satriyo. (rul/nur)

(sb/rul/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia