Senin, 09 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Polda Jatim Tetapkan Veronica Koman sebagai DPO

21 September 2019, 12: 56: 32 WIB | editor : Wijayanto

BURU DPO: Kapolda Irjen Pol Luki Hermawan saat konferensi pers di Polda Jatim.

BURU DPO: Kapolda Irjen Pol Luki Hermawan saat konferensi pers di Polda Jatim. (GINANJAR ELYAS SAPUTRA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur (Kapolda Jatim) Irjen Pol. Luki Hermawan menyatakan telah menetapkan satu tersangka dalam insiden di asrama mahasiswa Papua di Jalan Kalasan nomor 10, Surabaya, pada 16 Agustus 2019, Veronica Koman masuk Daftar Pencarian Orang (DPO). Penetapan tersebut dikeluarkan setelah pihaknya melakukan gelar perkara di Mabes Polri. 

Luki menjelaskan, penetapan DPO tersebut dikeluarkan setelah Veronica Koman mangkir dari tiga kali jadwal pemeriksaan sebagai tersangka. Veronica rencananya diperiksa pada 13 September 2019. Kemudian diberi kelonggaran hingga 18 September 2019. Namun yang bersangkutan tetap tidak mengindahkan panggilan tersebut.

“Kami telah melakukan gelar perkara di Mabes Polri. Sudah berkali-kali melakukan gelar perkara dan akhirnya kami mengeluarkan DPO,” kata Luki.

Luki menyatakan, penyidik juga telah melakukan upaya paksa untuk menjemput Veronica Koman ke rumahnya yang ada di Jakarta. Namun, hasilnya tetap nihil. 

Pihaknya telah mengeluarkan surat permohonan agar dikeluarkannya red notice bagi Veronica Koman. Permohonan red notive tersebut, kata Luki, nantinya akan dirapatkan oleh Hubinter Mabes Polri, sebelum akhirnya diajukan ke Prancis.

“Red notice berkaitan dengan Hubinter. Nanti akan dirapatkan. Tapi surat permohonan dari kami sudah dikirim,” tambahnya.

Sebelumnya, Kepolisian Daerah Jawa Timur menetapkan Veronica Koman sebagai tersangka dalam insiden di asrama mahasiswa Papua di Jalan Kalasan nomor 10, Surabaya, pada 16 Agustus 2019. Tersangka disebut-sebut sangat aktif menyebarkan hoaks dan provokasi di media sosial Twitternya.

Tersangka Veronica Koman memang sangat aktif terlibat dalam aksi-aksi yang melibatkan mahasiswa Papua di Jatim. Tidak saja pada aksi yang terjadi pada 16 Agustus 2019, tapi juga aksi-aksi sebelumnya. Bahkan, kata Luki, tersangka Veronica pernah membawa dua jurnalis asing untuk meliput aksi mahasiswa Papua pada Desember 2018.

Atas perbuatannya tersebut, tersangka diancam pasal berlapis. Di antaranya pasal 45A ayat (2) Jo Pasal 28 ayat (2) UU RI nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas UU nomor 11 tahun 2008 tentang UU ITE.

Kemudian Pasal 160 KUHP dan atau Pasal 14 ayat (1) dan atau ayat (2) dan atau Pasal 15 UU nomor 1 tahun 1946 tentang Peratutan Hukum Pidana, serta Undang undang Nomor 40 tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis. (gin/rud)

(sb/gin/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia