Jumat, 18 Oct 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Berlangsung 70 Menit, Operasi Herlina Berjalan Lancar

20 September 2019, 09: 20: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

OPERASI SARAF: Dokter spesialis bedah saraf, M Sofyanto (kiri), memimpin operasi bedah saraf bersama tim dokter, saat melakukan operasi saraf pasien H

OPERASI SARAF: Dokter spesialis bedah saraf, M Sofyanto (kiri), memimpin operasi bedah saraf bersama tim dokter, saat melakukan operasi saraf pasien Herlina, di National Hospital Surabaya, Kamis (19/9). (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Penderita Hemifacial Spasm, Herlina, 39,  akhirnya bisa melangsungkan operasi bedah saraf setelah lima tahun mengidap kondisi hemifacial spasm atau wajah merot. Operasi tersebut dilakukan oleh tim dokter bedah saraf dari Kortex Comprehensive Brain and Spine (KBSC) di National Hospital Surabaya, Kamis (19/9). Hemifacial Spasm,  terjadi ketika pembuluh darah menempel pada saraf nomor tujuh, yaitu saraf motorik khusus untuk wajah.

Berlangsung kurang lebih 70 menit, operasi warga Manokwari  itu menggunakan proses medis microvascular decompression (MVD) dengan teknik operasi lubang kunci atau keyhole surgery.

Muhammad, suami Herlina, mengatakan, dua tahun lalu, istrinya pernah datang ke dokter spesialis mata di Makasar.

"Tapi kata dokter, bukan merupakan penyakit mata. Akhirnya dirujuk ke dokter syaraf kemudian disarankan untuk ke Surabaya," ungkap pria yang sehari-hari bekerja sebagai sopir ini.

Gejala yang istrinya keluhkan, yaitu awalnya kedutan pada mata dan wajah bagian kiri. Setelah biaya dirasa cukup, pada September mereka akhirnya berobat ke Surabaya.

Salah satu tim dokter yang menangani operasi, dr Muhammad Sofyanto SpBS mengatakan, secara umum, operasi berjalan lancar, tidak ada kesulitan. "Kali ini pasien dengan kondisi wajah merot. Operasi dilakukan dengan bantuan mikroskop khusus. Kami juga memonitor kesadaran pasien," ungkapnya. 

 "Tindakan dilakukan secara minimal invansif, yaitu hanya dengan membuat lubang kecil diameter satu sentimeter di belakang telinga," jelasnya.  Melalui lubang itu, tim dokter melakukan pemisahan saraf nomor tujuh dan pembuluh darah dengan cara memasang serabut teflon di antara keduanya.

"Sebenarnya kondisi ini tidak menganggu fungsi tubuh yang lain, namun menganggu fungsi sosial seperti malu bertemu orang lain. Tindakan operasi ini dapat membuat wajah yang sebelumnya merot, menjadi normal kembali. Tidak ada pembengkakan pasca operasi," pungkas Sofyanto. (ism/rak)

(sb/is/jek/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia