Jumat, 18 Oct 2019
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Sidoarjo
Oknum Ponpes Mubarok Gerayangi 4 Santriwati

Warga Tolak Pernyataan Minta Maaf dan Penutupan Pondok

19 September 2019, 15: 06: 58 WIB | editor : Wijayanto

MINTA MAAF: Pihak pondok bacakan surat pernyataan penutupan pondok.

MINTA MAAF: Pihak pondok bacakan surat pernyataan penutupan pondok. (HENDRIK MUCHLISON/RADAR SIDOARJO)

Share this      

SIDOARJO - Pembacaan surat pernyataan penutupan pondok oleh pihak Pondok Pesantren Al Mubarok, Desa Kedungrejo, Jabon, ditolak warga. Massa menuntut terduga pelaku tindak asusila yang membacakan langsung surat permintaan maaf di hadapan warga.

Sebelumnya, warga desa menggelar demo di Balai Desa karena oknum pengasuh di ponpes tersebut kedapatan melakukan perbuatan asusila dengan menggerayangi empat orang santriwatinya.

Setelah massa menggelar demo, pihak kepala desa dan perwakilan warga mengadakan pertemuan dengan pihak pondok. Setelah kurang lebih 30 menit mengadakan pertemuan, pihak pondok pun keluar menyampaikan surat pernyataan.

DEMO: Warga Desa Kedungrejo Jabon meluruk ke Balai Desa.

DEMO: Warga Desa Kedungrejo Jabon meluruk ke Balai Desa. (HENDRIK MUCHLISON/RADAR SIDOARJO)

Dengan diwakili Zakky Mubarok, anak pengasuh pondok pesantren, pihak ponpes membacakan surat pernyataan di kantor desa.

Isinya, pihak pondok akan menutup sementara pondok putri terhitung hari ini (19/9). Namun pihak pondok minta waktu untuk memulangkan santri sampai hari Minggu (22/9)

Namun pernyataan itu ditolak oleh massa karena bukan terduga pelaku yang menyampaikan. Bahkan massa yang merasa tidak puas karena aspirasinya tidak dipenuhi sempat meneriakkan agar kepala desa mundur dari jabatannya.

Sementara itu, Kapolsek Jabon AKP Sumono menyebutkan jika dugaan kasus asusila itu terjadi sekitar tahun 2015 lalu. "Ada empat korban, tiga orang damai jalur kekeluargaan sedangkan satu menempuh jalur hukum," sebutnya. (son/jay)

(sb/son/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia