Jumat, 18 Oct 2019
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Gresik
Rekonstruksi Pembunuhan di Kafe Penjara

Peragakan 37 Adegan, Terungkap Pelaku Cemburu Korban Mau Dilamar Orang

19 September 2019, 09: 57: 11 WIB | editor : Wijayanto

TEGA: Tersangka Shalahudin Al Ayyubi saat menghabisi nyawa korban dengan mencekiknya.

TEGA: Tersangka Shalahudin Al Ayyubi saat menghabisi nyawa korban dengan mencekiknya. (YUAN ABADI/RADAR SURABAYA)

Share this      

GRESIK - Tersangka Shalahudin Al Ayyubi, 24, menjalani rekonstruksi pembunuhan dan pencabulan yang dilakukannya terhadap Hadryil Choirun Nisa, 25, di Kafe Penjara, Jalan Banjarsari, Rabu (18/9). Dalam rekontruksi tersebut, Shalahudin memperagakan 37 adegan.

Dari hasil rekontruksi yang dipimpin Kapolsek Cerme, AKP Iwan Hari Purwanto itu menunjukkan pemuda yang tinggal di Jalan Banjarsari Asri, Desa Banjarsari, Cerme itu sudah merencanakan pembunuhan. Motifnya tersangka cemburu lantaran korban hendak dilamar orang lain. 

Kapolsek Cerme, AKP Iwan Hari Purwanto mengatakan ada 37 adegan pembunuhan yang diperagakan tersangka. Dimulai dari saat ia menghubungi korban hingga mengeksekusinya.

"Tak ada adegan tambahan. Semuanya sudah sesuai dengan apa yang diceritakan tersangka dalam BAP. Hanya saja motifnya makin jelas karena asmara,” ungkap Iwan. 

Dikatakan, adegan dimulai ketika korban masuk ke kafe tersebut dengan mengendarai sepeda motor Honda Vario warna hitam bernopol W 3264 AH. Lalu, tersangka membukakan pintu pagar.

Setelah korban masuk, tersangka lantas menunjukkan kucing jenis Anggora warna hitam. Kucing tersebut sengaja disiapkan oleh tersangka untuk memancing korban agar mau datang ke kafe tersebut saat dihubungi.

Tersangka mengetahui jika korban termasuk pecinta kucing. Lalu saat korban melihat kucing tersebut, tersangka diam-diam menutup gerbang kafe. 

Kemudian pada adegan kelima sampai enam, tersangka tiba-tiba mendekap korban dari belakang. Hal ini membuat korban berontak hingga mencoba berteriak meminta tolong. Karena itu tersangka membekap mulut korban dan membantingnya ke tanah. Setelah itu tersangka menindih korban dan mencekiknya.

Hal ini membuat korban lemas dan pingsan. Perlahan Shalahudin merenggangkan cekikannya. Saat itu dia sempat memastikan kondisi korban. Karena masih bergerak dan bernafas, dia kembali mencekik korban hingga akhirnya tewas. 

Setelah itu, tersangka mengambil perhiasan dan handphone (HP) korban. Shalahudin bahkan sempat duduk di depan mayat korban.

Bukan menyesal dan ketakutan, melihat tubuh korban, dia pun terangsang. Lalu dia mulai melucuti celana dan celana dalam korban, dan memasukkan jarinya ke alat vital korban sambil melakukan masturbasi diri sendiri.

Setelah puas, Shalahudin lantas menyeret tubuh korban ke dalam kafe ke samping pos penjagaan. Kemudian mayat korban dimasukkan ke dalam karung dan ditaburi bubuk kopi yang ada di kafe itu. 

Lantas tersangka menyiapkan cangkul. Rencananya cangkul tersebut untuk menggali tanah dan mengubur korban di dalam kafe tersebut. Namun, hal itu tak langsung ia lakukan. 

Dengan santai, ia memilih meninggalkan lokasi dengan membawa barang berharga milik korban. Rencananya, ia ingin mandi dan akan mengubur korban usai pulang ngopi. Namun rencana menutupi kejahatan itu terhenti karena perbuatannya terbongkar berkat seorang saksi yang menemukan mayat korban di dalam kafe. Tersangka pun lebih dahulu diamankan polisi di rumahnya saat mandi.

Menurut AKP Iwan, Shalahudin memendam rasa kepada teman masa kecilnya itu. Hanya saja perasaan itu tak pernah diungkapkan langsung oleh tersangka kepada korban. Dia hanya mengatakannya kepada teman korban. 

“Dugaannya tersangka ini sakit hati lantaran perasaannya tak berbalas. Selain itu, belakangan ia mengetahui jika korban hendak dilamar pria lain,” terangnya. 

Sayang tersangka masih berbelit memberikan keterangan. Untuk itu, rencananya tersangka akan diperiksa kejiwaannya di RS Bhayangkara Polda Jatim.

Dari hasil rekonstruksi itu, polisi makin yakin untuk menjerat tersangka yang pemilik kafe tersebut dengan tiga pasal berlapis, yakni pasal pembunuhan berencana, perampasan dan pencabulan. 

“Rekonstruksi ini untuk melengkapi berkas perkara kasus ini. Sehingga setiap pasal yang kami jerat ada rujukannya,” pungkas Iwan. (yua/han)

(sb/yua/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia