Jumat, 18 Oct 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Kementerian Perindustrian: Robot Membawa Tren Positif di Industri 4.0

18 September 2019, 17: 21: 57 WIB | editor : Wijayanto

ANTISIPASI DISRUPSI: Head of Robotics & Discrete Automation ABB Indonesia Mugi Harfianza (kiri) bersama Presdir ABB Indonesia Michel Burtin, Kapus Litbang IKFLMATE Kemenperin, Sony Sulaksono dan Head of Motor & Generator ABB Chen Kang Tan.

ANTISIPASI DISRUPSI: Head of Robotics & Discrete Automation ABB Indonesia Mugi Harfianza (kiri) bersama Presdir ABB Indonesia Michel Burtin, Kapus Litbang IKFLMATE Kemenperin, Sony Sulaksono dan Head of Motor & Generator ABB Chen Kang Tan.

Share this      

SURABAYA – Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) optimistis mampu menunjukkan tren positif di industri 4.0. Berdasar hasil riset McKinsey & Company mengenai optimisme tertinggi dalam menerapkan industri 4.0, Indonesia menempati posisi kedua dengan raihan sebesar 78 persen.

Dari hasil riset yang sama, industri 4.0 mampu berdampak signifikan pada sektor manufaktur di Indonesia. Nilainya bahkan bisa mendorong peningkatan perekonomian hingga USD 150 miliar pada 2025.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Industri Kemenperin Ngakan Timur Antara mengungkap, ada lima sektor yang ditetapkan pemerintah sebagai sektor prioritas pembangunan industri ini.

Di antaranya makanan dan minuman, tekstil dan produk tekstil, bahan kimia, elektronik, dan otomotif. “Lima sektor itu yang akan memiliki kontribusi 60 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) dan eskpor Indonesia,” ungkapnya.

Oleh karena itu, melalui acara Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0), pihaknya terus mendorong perusahaan teknologi untuk menghadirkan serangkaian teknologi digital lintas industri. Seperti yang dimiliki oleh ABB Indonesia, perusahaan teknologi yang berfokus pada produk elektrifikasi, robotik, otomasi industri, dan jaringan listrik.

Head of Robotics & Discrete Automation ABB Indonesia Mugi Harfianza menjelaskan, tren penggunaan teknologi robot dalam proses produksi industri di Indonesia kian menanjak. “Tahun 2017 lalu, serapan robot di Indonesia hanya sekitar 950 unit per tahun. Namun saat 2018 melonjak menjadi 1.200 unit robot per tahun,” ungkapnya.

Menurutnya dengan lonjakan sebesar itu, ada kenaikan 20 persen dan sekaligus menjadi pertanda jika robot sudah bisa diimplementasikan oleh industri-industri Indonesia. Namun berbeda dengan penggunaan di negara lain yang kebanyakan memakai robot di industri otomotif dan elektronika, di Indonesia penggunaan robot terbesarnya masih dipegang oleh industri makanan dan minuman.

“Kelesuan industri juga membawa banyak pengaruh di serapan robot. Sehingga ketika industri mengalami peningkatan, jumlah robot yang dibutuhkan juga besar,” tambahnya. (rul/nur)

(sb/rul/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia