Jumat, 18 Oct 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Sidoarjo

Petani Resah Harga Garam Semakin Murah

18 September 2019, 14: 32: 15 WIB | editor : Wijayanto

PAS-PASAN: Petani garam di Desa Kalanganyar Tengah memasukkan garam ke dalam sak.

PAS-PASAN: Petani garam di Desa Kalanganyar Tengah memasukkan garam ke dalam sak. (RIZKY PUTRI PRATIMI/RADAR SIDOARJO)

Share this      

SIDOARJO – Harga garam di petani semakin hari semakin murah saja. Seperti petani garam Di Desa Kalanganyar. Per sak, seberat 55 kilogram, garam kasar dihargai Rp 25 ribu saja, membuat mereka semakin resah tak bisa menutup kebutuhan produksi dan makan keluarga. 

Achmad salah satu petani garam asal Sumenep Madura, tak berharap harga garam tinggi, hanya perlu berada di level stabil yakni Rp 50 ribu. Pria beranak lima ini mengungkapkan, dengan harga jual garam Rp 25 ribu, kerja petani bukannya tambah semangat justru tambah malas.

“Sedangkan harga bahan pokok setiap hari selalu naik. Tapi kalau sama-sama harga bahan pokok dan harga garam seimbang, maka sama-sama enaknya,” katanya dengan logat Madura yang kental. 

Sekali panen di satu petak lahan berukuran 5 x 17 meter, bisa mencapai 100 sak atau Cak Mad bisa menghasilkan uang Rp 2,5 juta. Belum dipotong biaya produksi mencapai Rp 1,5 juta. Sehingga bersihnya Rp 1 juta.

“Sedangkan petaninya dibagi tiga sama yang punya tambak. Sehingga kita hanya dapat Rp 330 ribu selama 15 hari. Penghasilan saya rata-rata Rp 22 ribu saja. Saya harus menghidupi enam orang. Mau beli sandal yang rusak saja, saya mikir,” imbuh pria berkumis lebat itu. 

Petani garam lainnya, Marzuki menyampaikan, tidak hanya garam yang kasar saja, harganya anjlok, tapi garam halus untuk produksi es batu juga demikian. Per sak dihargai Rp 18 sampai Rp 19 ribu. Untuk harga garam kasar tidak beda dengan Ahmad yakni Rp 25 ribu. 

“Harga garam sekarang murah. Tahun lalu, harga garam paling murah Rp 50 ribu per sak. Pernah paling mahal Rp 57 ribu. Sekarang, garam Rp 18 ribu sampai Rp 19 ribu masih kotor. Belum kepotong dengan biaya pikulan, transportasi jadi tinggal Rp 10 ribu bersih,” ujarnya. 

Marzuki bercerita, perubahan harga garam mulai terasa di bulan Oktober 2018 bergeser ke harga Rp 50 ribu. “Itu masih stabil. Jadi petani, istilahnya bisa menunjang perekonomian. Sekarang pas-pasan,” kisahnya. 

Pernah di tahun 2017, harga garam memasuki masa jaya dihargai per kilo Rp 4 ribu. Sehingga per ton garam dihargai Rp 4 juta. “Terus merosot ke Rp 350 ribu sampai Rp 400 ribu per tonnya. Kami berharap paling murah Rp 700 ribu,” ungkap Muzaki. (rpp)

(sb/rpp/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia