Senin, 09 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Nyamar Jadi Ekspedisi, Polisi Bongkar Penyelundupan 4,7 Kg Sabu

18 September 2019, 04: 55: 59 WIB | editor : Wijayanto

PAKET JAHAT: Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Sandi Nugroho menunjukkan barang bukti pembungkus paket SS yang diamankan di Mapolrestabes Surabaya, Se

PAKET JAHAT: Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Sandi Nugroho menunjukkan barang bukti pembungkus paket SS yang diamankan di Mapolrestabes Surabaya, Selasa (17/8). (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Nunuk alias SN dan Adi alias DI, keduanya warga Jalan KH Ahmad Khozin, Desa Siwalanpanji, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo, ditangkap polisi lantaran memiliki sabu-sabu (SS) seberat 4,7 kilogram. Jaringan ini sudah diburu sejak bulan lalu dan termasuk licin.

Kepolrestabes Surabaya Kombes Pol Sandy Nugroho mengatakan, anggota Satresnarkoba Polrestabes Surabaya harus menyamar sebagai karyawan ekspedisi untuk mencokok Nunuk dan Adi. SS dalam jumlah besar tersebut dikirim melalui ekspedisi PT Panca Kobra Sakti. Sabu itu diketahui melalui manifes yang berasal dari Jakarta dan dikirim kepada seseorang di wilayah Buduran, Sidoarjo. 

Akhirnya, polisi mengetahui nama Adi yang mengambil barang haram yang dikemas dalam karung putih dengan manifes tas ransel. "Tersangka langsung kami bekuk. Selanjutnya, kasus kami kembangkan," kata Sandy.

BUKAN PASUTRI: Petugas menggiring dua tersangka pemilik SS di Mapolrestabes Surabaya.

BUKAN PASUTRI: Petugas menggiring dua tersangka pemilik SS di Mapolrestabes Surabaya. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Tersangka Adi ternyata bekerja sebagai tukang becak. Dia bertugas mengambil kiriman paket berisi SS. Setelah berhasil menangkap Adi, polisi mengembangkan dan mengamankan tersangka Nunuk di rumahnya. Sabu tersebut ternyata akan diantar ke tersangka Nunuk.

"DI hanya sebagai pengantar saja. Sementara Nunuk yang langsung dikendalikan dari lapas. Siapa orangnya, masih kami selidiki," katanya.

Kombes Sandy mengatakan, pengungkapan narkoba ini merupakan hasil yang signifikan. Apalagi tersangka mengaku hendak mengedarkannya ke Surabaya. Dengan mengagalkan pengiriman 20 paket sabu seberat 4,7 kilogram berarti bisa menyelamatkan nyawa sekitar 14 ribu jiwa. Satu gram SS bisa menyebabkan tiga orang meninggal dunia. 

Mengenai jaringannya, pihaknya masih menyelidiki lebih lanjut. "Apakah jaringan internasional atau lokal masih kami selidiki lagi," ungkapnya.

Tersangka Nunuk mengaku sudah tiga kali menerima kiriman SS dalam jumlah besar dengan total mencapai 10,47 kg. Kiriman pertama dan kedua masing-masing tiga kilogram SS. Kiriman ketiga ini mencapai 4,7 kilogram. 

Tersangka yang merupakan ibu rumah tangga dengan dua anak tersebut mengaku dikendalikan seseorang dari balik penjara. Adapun pengirim SS tersebut adalah Bara yang berasal dari Jakarta. "Saya hanya dihubungi untuk menyerahkan SS tersebut ke pemesan. Setiap kali dapat SS saya terima upah Rp 15 juta," katanya.

Nunuk mengaku terpaksa menjadi kurir sekaligus pengedar SS untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan kedua anaknya. Sang suami tahu jika dirinya mengedarkan SS. "Suami saya tahu dan saat ini masih ditahan karena kasus narkoba juga. Saya disuruh," katanya lirih.

Sementara itu, tersangka Adi mengaku baru sekali mengambil SS. Tugasnya mengambil SS, kemudian menyerahkannya ke Nunuk. Tukang becak ini mendapat upah Rp 7,5 juta. "Rencananya, saya gunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Saya selama ini kerja jadi tukang becak," ucapnya. (gun/rek)

(sb/gun/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia