Jumat, 24 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Gresik

Cari Solusi Angka Perceraian Tinggi, MUI Diskusi Bareng Ratusan Ulama

18 September 2019, 00: 38: 04 WIB | editor : Wijayanto

DISKUSI: MUI Kabupaten Gresik saat berdiskusi tentang tingginya angka perceraian di Kabupaten Gresik.

DISKUSI: MUI Kabupaten Gresik saat berdiskusi tentang tingginya angka perceraian di Kabupaten Gresik. (YUDHI DWI ANGGORO/RADAR GRESIK)

Share this      

GRESIK - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Gresik menyoroti tingginya angka perceraian di Kabupaten Gresik. Mereka meminta tokoh agama dan ulama di seluruh desa untuk bisa membantu memberikan pemahaman terkait masalah perceraian.

Hal ini disampaikan MUI saat menggelar diskusi bersama Pengadilan Agama (PA), Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Gresik serta ratusan ulama dan tokoh agama dari sejumlah desa dan kecamatan di Masjid Agung Gresik.

Dalam diskusi tersebut diketahui, jumlah perceraian hingga Juli 2019 lalu menccapai 1.086 orang. Sedangkan angka perceraian di sepanjang 2018 sebanyak 1.932 orang atau naik dari 2017 yang hanya sebanyak 1.854 orang.

Beberapa faktor perceraian terungkap mulai dari kesulitan ekonomi, tidak adanya keserasian atau sering bertengkar, ada juga kasus kekerasan dalam rumah tangga serta kasus lainnya.

Ketua MUI Gresik, KH Mansoer Shodiq mengatakan, pihaknya sengaja menggelar diskusi terkait dengan perceraian. “Sebab, angka perceraian di Kabupaten Gresik cukup tinggi dan sangat memprihatinkan,” ujarnya.

Dikatakan, dalam diskusi ini pihaknya juga menghadirkan ratusan ulama dari sejumlah desa di Kabupaten Gresik. Kehadiran mereka sangat penting untuk membantu menekan angka perceraian di Gresik. “Kami berharap peran ulama dan tokoh agama di desa untuk membantu memahamkan masyarakat terkait masalah pernikahan dan perceraian,” ungkap dia.

Hal senada disampaikan Sekretaris MUI Gresik Abdul Munif. Menurut dia, ulama di kecamatan dan desa-desa diharapkan bisa menekan angka perceraian. Caranya adalah melakukan langkah preventif, tokoh masyarakat bisa melakukan dakwah ke masyarakat soal menjaga pernikahan agar sakinah, mawaddah, wa rahmah.

"Jadi nantinya ulama ini bisa menjadi tameng atau bisa menjadi langkah preventif ke masyarakat. Para ulama bisa berdakwah langsung ke masyarakat," ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Kemenag Gresik Markus Firdaus mengungkapkan jika kasus perceraian bisa terbagi dari beberapa faktor mulai dari kesulitan ekonomi, tidak adanya keserasian atau sering bertengkar.

Dikatakan Markus, selain faktor tersebut, dia meyakini faktor media sosial juga ikut mempengaruhi. "Harus ada riset bahwa media sosial juga menpengaruhinya suami istri bercerai," katanya yang juga berharap ulama bisa menekan angka perceraian di Gresik. (yud/rof)

(sb/yud/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia