Jumat, 18 Oct 2019
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Gresik

Transaksi di Warkop, Pengedar Narkoba Jaringan Lapas Digerebek BNN

17 September 2019, 16: 32: 55 WIB | editor : Wijayanto

TAK BERKUTIK: Tiga tersangka dan barang bukti peredaran narkoba diamankan oleh BNNK Gresik.

TAK BERKUTIK: Tiga tersangka dan barang bukti peredaran narkoba diamankan oleh BNNK Gresik. (YUAN ABADI/RADAR SURABAYA)

Share this      

GRESIK - Tak butuh tempat sepi untuk melakukan transaksi narkoba. Terbukti, Handoko,26, Moch Ainur Rofik,19, dan Suharno,30, memilih warung kopi. Namun apes, karena terlalu berani, ketiga warga Desa Babatan, Balongpanggang, Gresik itu digerebek petugas Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Gresik dengan BNN Provinsi Jatim. 

Ketiganya diringkus di sebuah warung kopi Indowarkop di Jalan Raya Menganti, Gresik, pada Sabtu (14/9). Mereka berkumpul di warkop tersebut untuk melakukan transaksi. Jaringan ini sudah terendus sejak sebulan terakhir.

Dari informasi yang didapati petugas, jaringan tersebut menjalankan bisnis narkoba yang dikendalikan dari lapas porong. “Sedangkan barang bukti sabu-sabu (SS) tersebut dipasok dari Sumatra,” ungkap Kepala BNNK Gresik, AKBP Supriyanto.

Dikatakannya, proses transaksi tersebut sudah diikuti timnnya sejak dari Juanda. SS tersebut didrop dari sana. Saat itu, Handoko dan Rofik yang betugas mengambilnya. Kemudian, SS itu diranjau kembali di kawasan JMP untuk kemudian dibawa ke Gresik.

Hanya saja untuk mengelabuhi petugas, mereka terlebih dahulu berputar di salah satu pasar di kawasan Benowo. “Kami terus kuntit, sebelum akhirnya mereka ditangkap di Balongpanggang itu,” terangnya.

Kemudian dari penggerebakan itu, petugas mengamankan barang bukti berupa satu poket SS dengan berat 104,30 gram. SS itu disimpan di atap warung dan dibungkus dengan plasti warna hitam.

Meski sudah mengamankan barang bukti itu, namun tak membuat petugas puas. Mereka mengkeler ketiga tersangka ke rumah masing-masing. “Hasilnya dari rumah Suharno, kami mengamankan barang bukti lain berupa satu poket ss seberat 0,68 gram, lengkap dengan alat isap dan timbangan elektrik,” terangnya.

Tak hanya itu, sepeda motor, catatan transaksi dan buku tabungan pun juga diamanakan. Dari keterengan ketiganya, SS tersebut merupakan HSG, seorang napi di Lapas Porong (proses lidik). Sedangkan mereka diminta untuk mengedarkan.

Menurut Supriyanto dalam jaringan ini, ketiganya memiliki tugas masing-masing. Suharno sebagai pengepul atau gudang SS yang diambil oleh  Handoko dan Rofik.  Biasanya, barang yang diranjau kepada Handoko tak langsung diedarkan, tetapi dikumpulkan sementara di rumah Suharno. “Setelah itu, mereka akan memecahnya menjadi beberapa paket untuk dijual kembali. Satu poket besar pergramnya di jual Rp 1,2 juta,” terangnya.

Proses penjualannya dengan cara paket kecil atau juga paket hemat. Sasarannya merupakan remaja-remaja yang ada di sejumlah kawasan di Gresik.

Bisnis itu sudah berjalan sejak Juli lalu. Dari rentang waktu beberapa bulan itu, ketiganya sudah berhasil mengedarkan sepuluh ons SS di kawasan Gresik. “Sepuluh kali transaksi dari Surabaya, setiap kali transaksi sebesar satu ons,” tandasnya.

Dari keterangan Rofik dan Handoko, untuk sekali pengambilan mereka memperoleh upah Rp 1 juta. Selain itu, mereka juga dizinkan menikmati SS secara gratis. Suharno juga sama, selain pengedar juga pemakai aktif. Namun sebagai bapak satu anak, penjual kopi ini biasanya mengisap SS di kamarnya.

“Parahnya asapnya seringkali didekatkan kepada akanya yang masih berumur sebelas bulan,” pungkas perwira dengan dua melati di pundak itu.

Sementara itu, kepada petugas Handoko mengaku nekat masuk ke jaringan peredaran narkoba lantaran tergoda dengan upah yang diperoleh. Pekerjaannya sebagai tukang service AC dirasa tak cukup untuk memenuhi kebutuhan. “Punya uang kalau ada service, kalau tidak ya serabutan,” ungkapnya. (yua/han)

(sb/yua/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia