Jumat, 18 Oct 2019
radarsurabaya
icon featured
Politik Surabaya

Kader Muslimat NU Daftar Pilwali Surabaya Lewat PDIP

12 September 2019, 16: 52: 29 WIB | editor : Wijayanto

DAFTAR: Wakil Sekretaris Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Timur Dwi Astuti mengambil formulir pendaftaran bakal cawali Surabaya ke PDIP.

DAFTAR: Wakil Sekretaris Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Timur Dwi Astuti mengambil formulir pendaftaran bakal cawali Surabaya ke PDIP. (ISTIMEWA)

Share this      

SURABAYA - Wakil Sekretaris Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Timur Dwi Astuti mengambil formulir pendaftaran bakal calon wakil wali (cawawali) kota Surabaya di kantor DPD PDI Perjuangan Jatim, Jalan Kendangsari, Surabaya, Rabu (11/9). Ia diantar perwakilan Muslimat NU, Komunitas Tiara Kusuma, dan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS).

Dwi Astuti diterima Wakil Ketua Bidang Ideologi dan Kaderisasi DPD PDIP Jatim Daniel Rohi serta Wakil Ketua Bidang Pemenangan Pemilu DPD PDI Perjuangan Jatim Deni Wicaksono. Salah satu alasan Dwi mendaftar melalui PDIP karena partai berlambang banteng dengan moncong putih itu memiliki 15 kursi di DPRD Surabaya.

"Bukan berarti saya mengesampingkan partai yang lain. Tetapi ini sama-sama bergerak untuk Surabaya," ujarnya.
Meskipun berharap bisa menjadi wali kota, Dwi mengaku masih harus mengatur strategi terlebih dulu. Dwi juga siap jika diminta oleh Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri. Sebelumnya ia disebut-sebut sempat melakukan penjajakan ke Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Ketika diminta konfirmasinya, Dwi mengatakan sempat memenuhi panggilan Ketua DPC PKB Surabaya Musyafak Rouf. "Jadi, waktu itu saya diajak berbicara tentang Surabaya dan Universitas Sunan Giri Surabaya. Karena memang saya dosen di universitas tersebut. Beliau sempat tanya kepada saya, apakah jadi mencalonkan wali kota Surabaya. Ketika saya bilang betul, beliau menjawab kursi PKB disiapkan untuk saya," katanya.

"Lalu, kenapa saya melalui PDI Perjuangan? Karena partai ini terbesar di Surabaya. Kursinya ada 15. Gak cukup karena PKB cuma lima kursi di dewan. Untuk mengusung calon wali kota minimal harus 10 kursi," imbuhnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Pemenangan Pemilu DPD PDIP Jatim Deni Wicaksono mengatakan, hingga sekarang untuk Pilwali Surabaya sudah ada empat orang yang mengambil formulir di DPD PDIP Jatim. Keempatnya mengambil formulir pendaftaran untuk calon wakil Wali Kota. "Kami tidak mempublikasikan siapa saja yang daftar. Kalau mereka mau mempublikasikan sendiri, kami mempersilakan," katanya.

Terpisah, Ketua DPC PKB Jatim Musyafak Rouf ketika dikonfirmasi tidak mempermasalahkan Dwi Astuti yang mendaftar bakal calon wali kota tidak melalui PKB. Dia menyebut ada dua opsi, yakni bisa dengan berangkat sendiri dan melalui PDIP. "Mbak Dwi bisa juga melakukan koalisi antara PDIP dan PKB. Mengingat dua partai ini adalah sama-sama partai besar," jelasnya.

Musyafak menambahkan, ada tiga nama yang melakukan penjajakan ke partainya terkait Pilwali Surabaya 2020.  Yakni Firman Syah Ali, keponakan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud Md, Wakil Sekretaris Muslimat NU Dwi Astutik, dan Wakil Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana.

"Dengan lima kursi di DPRD Surabaya, PKB tidak bisa mengusung calon sendiri. Butuh lima kursi lagi setidaknya untuk memenuhi 20 persen atau 10 kursi. Sehingga, mau tidak mau, harus menggandeng partai lain. Dasar ini yang membuat PKB tidak membuka pendaftaran secara resmi untuk calon wali kota," pungkasnya. (mus/rek)

(sb/mus/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia