Senin, 18 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Tak Dianggep Oleh Mertua Lokal, Dipuja Mertua Bule

11 September 2019, 16: 55: 39 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Menikah memang bukan hanya menyatukan dua sejoli yang dimabuk cinta. Ada keluarga, ada ibu mertua yang kudu klop juga. Kalau tidak, wah bahaya. Bisa bubar jalan kalau mereka tak menerima kita.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Di lobi registrasi Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya, pertengahan pekan lalu, Radar Surabaya bertemu dengan Karin. Sekilas, ia terlihat seperti perempuan usia 35 tahunan. Pembawaannya tenang. Meski balita yang ia bawa bersamanya, umek ae munggah mudun kursi. 

Karin rupanya juga terbuka orangnya. Duduk di sanding Radar Surabaya, ia langsung cerita banyak hal. Duh Mas, Mbak Karin ae tak sanding, apalagi kamu? Iya kamu! Tapi kamu di mana ? Masih ngopeni jodoh orang lain ta? (Mohon maaf, efek terlalu lama sendiri, penulis jadi halu) 

Jadi, Karin saat itu bukannya sedang mengurus cerai. Tapi, ia sedang mengambil surat cerai. Ia sudah bercerai dengan mantan suaminya, Donwori, sembilan tahun yang lalu. Penyebabnya tak lain karena ia dibenci oleh mertuanya sendiri. 

Alasannya umum. Harta dan status sosial. Karin tidak disukai ibu mertuanya, sebut saja Mira, karena Karin miskin harta. Punya pekerjaan sekenanya, dibesarkan oleh keluarga sederhana. Tapi, hatinya kaya lho.  Jauh berbeda dengan Donwori yang sebuyut-buyutnya punya titel. 

Singkat cerita, karena jomplang inilah, Karin kurang diterima. Direstui nikah sih,  iya. Tapi, tidak diperlakukan layaknya mantu. "Malah dulu, jauh sebelum nikah, ibunya datang ke rumah, tak persilahkan masuk pun menolak. Tak temukan bapak ibukku, ya menolak. Waktu itu aku cuma ditanyai banyak hal. Intinya, serius mau nikah sama anaknya atau enggak," cerita Karin kembali membuka kisah lamanya. 

Waktu itu, mak deg, hati Karin sudah merasa tidak enak. "Kok rasa-rasanya calon mertuaku ini gak suka sama saya. Tapi, aku kadung cinta sama anaknya," pikirnya waktu itu. 

Karena nekat adalah moto hidup Karin, maka ia ngotot menikah dengan Donwori. Eh gak lidok, kekhawatirannya menjadi kenyataan. Karin benar-benar tak dianggap. Meski tinggal serumah, ia tak pernah diajak bicara.

Atau ketika mengajak bicara pun, Karin diabaikan. Di awal-awal menikah, ia bahkan terus-terusan dinyinyiri. Disakiti secara verbal. Katanya, Donwori rugi menikahi Karin. Karin cuma bawa sial dan seterusnya. "Saking stresnya saya dulu, anakku lahir prematur. Kasihan, kurus kecil," ujarnya. 

Hingga suatu ketika, Mira meminta Karin pergi dari rumah. Mira bahkan tega mengatakan akan menikahkan Donwori dengan anak koleganya, yang lebih mapan dan bisa dipamerkan.

"Waktu itu Mas Wori kerja, aku diminta membawa semua barangku. Bawa anak sekalian disuruh minggat," lanjutnya. Sampai pada cerita ini, butir air mata Karin tak sengaja menyembul di sudut matanya. 

 Saat itu, Donwori ke mana? Haah, sudahlah, jangan ditanyakan. Kata Karin, Donwori adalah tipikal pria mbok-mboken yang manut opo jare ibuke. Dikata Karin kabur dan sudah tak mau melanjutkan pernikahan pun, Donwori manut saja. 

Singkat cerita, enam tahun setelah cerai dengan Donwori, Karin dinikahi bule Jerman. Tapi dudu jejere Manukan ya, beda cerita.  Ini benar-benar Jerman, negara di benua Eropa itu.

Dengan suami barunya, Karin hidup bahagia. Meskipun tak cantik-cantik amat, suami bule Karin ini selalu memuji cantik eksotisnya. Dan satu hal yang membuatnya sangat bersyukur adalah mertuanya. Katanya, mertua bulenya kali ini jauh berbeda dengan mertuanya yang dulu.

Kata Karin, mereka lebih santun. Tidak harus dihormati seperti mertuanya dulu. Seperti teman saja. Mau bangun kesiangan pun, mereka no worries. Malah sudah cemepak sarapan sudah di meja."Coba kalau di Indonesia, Mbak. Sudah dihujat, disindir-sindir. Belum jadi bahan gosip dengan tetangga," imbuhnya.

Satu yang paling penting, mertua Karin juga tak mempermasalahkan latar belakang keluarganya. Woles saja. "Kalau dibandingkan mertua yang dulu, memang jauh, Mbak. Ada pun seribu satu. Budaya hormat menghormati ini lho yang berat," pungkasnya.

Mungkin benar, kalau semua mertua macam mertua Karin. Akan sedikit sekali drama antara mertua dan mantunya. Mantu bisa lebih betah tinggal serumah. Rumah tangga ayem, damai sejahtera. Mungkin. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia