Jumat, 22 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Polda Ancam Keluarkan Red Notice, Minta Veronica Kooperatif

11 September 2019, 16: 53: 35 WIB | editor : Wijayanto

Veronica Koman

Veronica Koman (DOK/JPNN)

Share this      

SURABAYA - Polda Jawa Timur melayangkan panggilan kedua terhadap tersangka Veronica Koman. Polisi mengimbau perempuan kelahiran Medan itu untuk kooperatif datang memenuhi panggilan penyidik.

Pekan lalu, Veronica telah ditetapkan sebagai tersangka ujaran kebencian, provokasi, dan hoaks terkait insiden di Asrama Mahasisiwa Papua, Jalan Kalasan 10 Surabaya dan kerusuhan di Papua.

Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan mengatakan, pemanggilan pertama sudah dilakukan terhadap tersangka VK di dua alamat Jakarta Selatan dan Jakarta Barat. Namun, belum ada respons dan konfirmasi terkait alasan ketidakhadiran VK.

"Kami sudah melayangkan pemanggilan kedua. Kami juga sudah melibatkan Divisi Hubungan Internasional," ujar Luki di Mapolda Jatim.

Surat panggilan kedua, lanjut Kapolda, sudah dilayangkan ke Jakarta. Selain itu, divhubinter juga akan mengirimkan surat panggilan kepada alamat VK yang ada di luar negeri melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI).

Polisi mengklaim sudah mengantongi alamat tersangka di luar negeri. Tak hanya itu. Karena jauh, Kapolda memberikan tenggat waktu kepada VK selama dua pekan untuk hadir. Luki menegaskan, apabila panggilan kedua ini pun tidak direspons, pihaknya akan  mengeluarkan surat daftar pencarian orang (DPO) kepada VK.

Selain itu, polisi juga akan mengeluarkan surat red notice untuk memulangkan tersangka. "Nah, ini akan berat kalau sudah keluar red notice. Yang bersangkutan tidak bisa keluar atau tidak bisa pergi ke mana-mana lagi ke 190 negara yang saat ini sudah bekerja sama dengan kita," paparnya.

Jenderal polisi bintang dua itu berharap, tersangka VK hadir sebelum tanggal yang ditetapkan. Polda Jatim juga mempersilakan tersangka melakukan upaya-upaya hukum bila ada keberatan, bukan malah berkomentar melalui media sosial (medsos).

"Kami melakukan (penyelidikan) terhadap dua rekening. Baik (rekening bank) di dalam negeri maupun di luar negeri. Kami akan mencari tahu transaksi yang masuk dan keluar untuk mencari benang merah permasalahan yang terjadi di Indonesia," tegasnya.

Masih di tempat yang sama, Luki juga menegaskan masih melakukan penyelidikan terkait dugaan teror pelemparan ular piton di Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan 10 Surabaya belum lama ini. Polisi sejauh ini belum bisa masuk untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Polisi masih berusaha untuk mengetahui kasus yang sebenarnya.

"Nah, sampai sekarang kami tidak tahu yang benar yang mana. Prinsipnya,  kami akan melakukan proses hukum apabila ada pihak-pihak yang merasa dirugikan," katanya. (rus/rek)

(sb/rus/jay/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia