Senin, 18 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Bangga Sudah Gerebek dan Jambak Pelakor

11 September 2019, 04: 00: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Apa hukuman yang pantas untuk pelakor ya? Mau mempermalukan di depan umum, tapi kebanyakan mereka sudah tak punya urat malu. Mau mukul kok ya berisiko banget. Kalau pelakornya pinter, bisa-bisa nasib kita habis dilaporin polisi.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Pelakor memang pantas dihukum. Begitu jugalah prinsip Karin. Yang bangga telah berhasil menjambak habis rambut pelakor yang telah merebut cinta suaminya. 

Di warung sederhana samping Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya, Karin, 28, membagikan kisah penggerebekan pelakor. Yang ia lakukan sendiri, satu minggu lalu. 

Tepat jam pulang kerja, Karin sengaja memantau Donwori, suaminya, keluar kantor. Agar tak ketahuan, ia parkir beberapa meter dari kantor. Selang 30 menit kemudian, keluarlah Donwori. Melaju pelan-pelan dengan sepeda butut yang tak kalah kawak dengan pengendaranya. 

Ia pun mengikuti ke mana suaminya pergi. Entah didorong oleh keyakinan apa, Karin yakin kalau malam itu Donwori akan kencan dengan pelakornya.  Sebut saja nama si pelakor itu Sephia, untuk memudahkan mengingatnya.

Diikuti pelan-pelan, motor yang Donwori kendarai mulai menepi di sebuah taman di kawasan Surabaya Pusat, tak jauh dari kantornya. Di sana ia menunggu lagi, 15 menitan sampai seorang perempuan dengan mengendarai gojek, turun di samping Donwori parkir. 

Kala itu, Karin langsung kehabisan kata-kata. Karena perempuan yang ia lihat, tak lain adalah temannya sendiri, yang kebetulan satu kantor dengan Donwori. Saking shock-nya, Karin yang kala itu penuh waspada, langsung lemes. Adegan yang barusan dilihat, tak pernah ia bayangkan sebelumnya. 

Tak ingin kehilangan jejak, Karin berusaha tetap strong. Ia ikuti lagi ke mana dua sejoli haram itu pergi. Hingga sampailah ia di sebuah hotel melati yang penerangannya  ngenes. Lebih cocok disebut horor ketimbang temaram syahdu. 

Tak kebanyak drama, Karin langsung menghampiri Donwori dan Sephianya. Merasa kesal luar biasa, ia ngamuk-ngamuk sembari menjambak rambut si pelakor. Disertai kata-kata kotor. "Djian***, kon iku tibake l***e yo! Bojone kancamu dewe tok rebut, jatahe bojomu kurang a," begitu kira-kira kalimat Karin yang terbakar emosi.

Karin yang makin emosi pun lepas kendali. Ia angkat tangannya untuk menampar si pelakor. Namun, terhalang karena tangannya dipegangi Donwori. Ya, Donwori bedebah itu malah menbela pelakornya dari amukan Karin. 

Karena makin kesal, Karin kala itu langsung berbalik dengan sudut kemiringan 180 derajat. Ia hempaskan pegangan Donwori, dan ia tendang itu-nya Donwori keras-keras, biar tahu rasa. Fix, kala itu Donwori tumbang tak berkutik.  Mengakhiri perbuatan heroiknya, Karin bergegas dan berteriak. "Terusno ae lekmu selingkuh, **"****"* kon kabeh *******, ayo cerai !!!."

Penggerebekan itu pun Karin bangga-banggakan di depan dua perempuan yang mendengarnya. Ia bangga, meski sudah tersakiti, tapi ia bisa melepaskan rasa dongkol itu dengan tindakan fisik yang memang pantas mereka dapatkan. "Sukur, cek dirasakne kunu. Wingi iku sempet tak cakar sisan lengene. Cek cuwil-cuwil kunu," lanjut Karin. 

Mengapa Karin terlihat begitu kuat? Wah…,  Anda terlalu cepat menyimpulkan saudara-saudara. Karena kenyataannya Karin sudah terluka dan menangis lama mengetahui Donwori selingkuh. Dan hanya ia tahan saja. " Wes entek iluhku, Mbak tak gawe nangisi lanangan ediaaaaaan, " pungkasnya. Ke depan, seusai cerai, Karin pun memilih fokus pada dua anaknya saja. (*/opi) 

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia