Jumat, 18 Oct 2019
radarsurabaya
icon featured
Gresik

Peringkat Kedua Penyakit Mematikan, Waspadai HIV/AIDS di Gresik

10 September 2019, 16: 28: 38 WIB | editor : Wijayanto

MENUNGGU: Para pasien sedang menunggu dokter untuk periksa kesehatan lanjutan.

MENUNGGU: Para pasien sedang menunggu dokter untuk periksa kesehatan lanjutan. (HILDAN SEPKA/RADAR GRESIK)

Share this      

GRESIK - Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik makin serius memperhatikan upaya untuk menekan jumlah penderita HIV/AIDS di Gresik. Pasalnya, jumlah penderita di Gresik kian meningkat dari tahun ke tahun.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik, Ummi Khoiroh mengatakan, posisi penderita di Kabupaten Gresik meningkat tajam dan berada di posisi kedua setelah Surabaya.

Menurutnya sesuai dengan bahasa probabilitas atau perkiraan hal ini disinyalir karena perkembangan industri di Kabupaten Gresik yang semakin meningkat. Hal itu mengakibatkan kehidupan malam juga berkembang. “Akhirnya muncul perilaku di luar kaidah agama,” ujarnya kepada Radar Gresik, Kamis (5/9).

Dia menyebutkan hal itu yang menyebabkan jumlah penderita HIV/Aids meningkat di Kabupaten Gresik. Sampai dengan bulan April pihaknya mengaku menemukan penderita berjumlah 11 orang, dari bulan Mei – bulan Juli meningkat menjadi 49 orang, dan hingga saat ini total penderita sudah mencapai 54 orang. Serta, hampir setiap minggu pihaknya mengaku menemukan dua penderita baru. “Saya kaget,” terangnya.

Berbagai strategi penemuan secara aktif dilakukan terhadap pelaku utama. Penemuan secara pasif sasaran utamanya adalah pasangan dan anaknya. Selain itu akan merangkul Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) agar masyarakat perliaku seksual menyimpang ini agar bersedia untuk memeriksakan diri.

Pihaknya akan menerjunkan Manajer Kasus (MK) langsung berinteraksi ke komunitas. Pihaknya, akan terus memberi edukasi sedini mungkin kepada masyarakat tentang kesehatan reproduksi dan perilaku seksual yang sehat.”Itu penting,”ujarnya.

Pentingnya dukungan dari berbagai pihak dari pemerintah daerah agar memiliki komitmen yang kuat. Dalam artian untuk  tidak selalu memberi keluasan pintu investasi sebanyak-banyaknya.

Di sisi lain agar secara pasti menyiapkan program antisipasi terhadap itu apabila itu mengalami kenaikan secara drastis. Dukungan lain yang diharapkan bisa dalam bentuk pengadaan alat, obat, dan tenaga. Perilaku itu mengantong pada daerah-daerah tertentu. “Dulu selatan, sekarang di beberapa titik bagian utara Gresik,” pungkasnya. (hil/han)

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia