Rabu, 18 Sep 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Larangan Penggunaan Plastik Berdampak ke Industri

10 September 2019, 14: 20: 10 WIB | editor : Wijayanto

TAK SETUJU: Dengan aturan pembatasan kantong plastik, Inaplas mengeluhkan dampaknya ke industri maupun penanaman modal di sektor tertentu.

TAK SETUJU: Dengan aturan pembatasan kantong plastik, Inaplas mengeluhkan dampaknya ke industri maupun penanaman modal di sektor tertentu. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Belum lama ini Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menerbitkan surat edaran tentang imbauan larangan penggunaan kantong plastik sekali pakai kepada seluruh pelaku usaha di Surabaya. Hal tersebut memantik tanggapan dari berbagai pihak. Tak terkecuali dari Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) yang menjadi pihak paling terdampak.

Direktur Pengembangan Bisnis Inaplas Budi Susanto Sadiman mengungkapkan ketidaksetujuan pihaknya terhadap pelarangan penggunaan kantong plastik. “Dampak yang didapat dari imbauan pelarangan tersebut cukup signifikan bagi kami. Baik dilihat dari segi pertumbuhan industri plastik maupun dari penciptaan lapangan pekerjaan. Lagipula kami menilai dengan adanya imbauan larangan penggunaan kantong plastik tidak lantas memecahkan permasalahan sampah plastik,” jelasnya.

Budi juga menyayangkan jika larangan penggunaan sampah plastik tersebut juga berpengaruh terhadap industri recyle dan Asosiasi Pemulung. Bahkan dia mencontohkan, hadirnya imbauan tersebut dapat membuat suatu daerah kehilangan peluang investasi.

“Dampaknya bisa kecil bisa besar. Salah satunya bisa kita lihat bagaimana sentimen negatif terhadap kantong plastik bisa membatalkan rencana investasi terkait refinery crude oil yang terintegrasi ke petrochemical bernilai sebesar USD 8 miliar,” ungkapnya.

Oleh karena itu, dari awal Inaplas yang telah concern ke masalah pengelolaan sampah mengajak masyarakat untuk terlibat langsung dalam mengelola sampah dari hulu ke hilir. “Kita tahu konsumsi plastik kemasan di Indonesia masih sangat tinggi. Itulah kenapa kami usulkan pengolahan manajemen sampah zero (Masaro),” jelas Budi.

Nantinya, pengolahan Masaro mampu menangani sampah tanpa ada yang tercecer. Bahkan dapat menciptakan lapangan pekerjaan sekaligus circular economy. “Saat ini Industri Pengolahan Sampah (IPS) Masaro sudah memiliki tiga pilot plant yang ada di daerah Cilegon dan baru saja diresmikan. Sedang daerah-daerah seperti Pekanbaru, Batam, Cirebon, Wonosobo, Bandung, Jakarta, Bekasi akan segera menyusul,” urainya.

Budi menambahkan, hadirnya pengolahan Masaro sebagai circular economy diharapkan dapat membawa serta dampak positif terhadap penggunaan sampah plastik dan mengangkat perekonomian daerah.

“Ajakan untuk terus mengelola sampah plastik dengan baik dan benar terus kami lakukan. Dengan edukasi pengelolaan sampah diharapkan tidak berimbas negatif pada industri plastik dan berbagai sektor di sekelilingnya,” kata Budi. (rul/nur)

(sb/rul/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia