Senin, 20 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Dishub Tambah Solar Cell Di Enam Titik Traffic Light

10 September 2019, 00: 47: 49 WIB | editor : Wijayanto

TENAGA MATAHARI:  Salah satu solar cell yang dipasang di Jalan Jagir Wonokromo, sebagai sumber energi untuk menyuplai traffic light di perempatan tersebut.

TENAGA MATAHARI: Salah satu solar cell yang dipasang di Jalan Jagir Wonokromo, sebagai sumber energi untuk menyuplai traffic light di perempatan tersebut. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya tahun ini terus menambah solar cell di beberapa ruas jalan. Penambahan itu untuk memenuhi kebutuhan energi listrik yang digunakan traffic light dan penerangan jalan umum (PJU).

Pemasangan solar cell tersebut dinilai Pemerintah Kota (pemkot) Surabaya lebih efisien dan hemat ketimbang menggunakan energi listrik konvensional. Selain itu, dengan solar cell juga bisa menangani jika sewaktu-waktu terjadi pemadaman listrik oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Kepala Dishub Surabaya Irvan Wahyudrajad menjelaskan, di tahun 2019 pihaknya berencana menambah solar cell di 16 titik di Kota Pahlawan. Hingga saat ini sudah terpasang 10 titik. “Kami antisipasi dengan memasang itu (solar cell, Red) maka suatu waktu ada masalah teknis atau pemadaman listrik,  lalu lintas tidak kacau dan bisa berjalan lancar,” kata Irvan.

Lebih lanjut ia merinci 10 titik yang sudah dipasang itu ada di ruas Jalan Ngemplak – Jalan Ambengan, Jalan Kutai – Jalan Diponegoro – Jalan Kartini, Jalan Ngagel Jaya Utara – Jalan Ngagel Jaya (Linda Jaya), Jalan Ngagel Jaya Selatan – Jalan Ngagel Madya (RMI), Jalan Raya Darmo – Jalan Bengawan, Jalan Nginden Semolo – Jalan Bratang, Jalan Panjang Jiwo – Jalan Nginden, dan Jalan Ngagel Jaya Selatan – Jalan Manyar. “Saat ini sudah 10 titik yang terpasang solar cell. Untuk yang Jalan Stasiun Wonokromo – Jalan Ahmad Yani sudah terpasang tahun lalu,” ungkapnya.

Sedangkan untuk enam titik lainnya, Dishub Surabaya masih akan melakukan proses pemasangan. Masing-masing di Jalan Panjang Jiwo – Jalan Kedung Baruk, Jalan Dupak – Jalan Semarang – Jalan Pasar Turi, Jalan Kedungdoro – Jalan Embong Malang, Jalan Prof. Dr. Moestopo – Jalan Dharmawangsa, dan Jalan Pendegiling – Jalan Sulawesi – Jalan Keputran. 

Sebelumnya Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini pernah mengatakan, pengunaan solar cell di lingkungan Pemkot Surabaya sudah dimulai sejak tahun 2016. Awalnya saat itu terjadi peristiwa angin puting beliung yang menerjang di sejumlah kawasan Kota Surabaya.

Imbasnya, sejumlah kantor instansi pemerintahan tidak bisa melayani karena aliran listrik terganggu akibat puting beliung tersebut. Oleh karena itu, Wali Kota kemudian memutuskan untuk menggunakan teknologi solar cell tersebut.

Terbukti, hingga saat ini Pemkot Surabaya belum pernah mengalami kendala saat melayani warganya yang diakibatkan putusnya aliran listrik. “Kemudian kita pasang (solar cell, Red). Sekarang ada 100 titik, kita sudah pasang hampir 70 persen,” ujar Risma, sapaan karib Tri Rismaharini.

Wali kota perempuan pertama di Surabaya ini mengungkapkan, dahulu Pemkot Surabaya harus mengeluarkan biaya sekitar Rp 1 juta per bulan untuk satu titik traffic light. Biaya itu digunakan untuk daya serta instalasi listrik. Namun sekarang, pemkot hanya mengeluarkan biaya untuk sewa meteran sekitar Rp 90 ribu.

Selain memasang solar cell, Pemkot Surabaya juga menambah genset pada rumah-rumah pompa yang tersebar di Kota Surabaya. Sebab, salah satu piranti penting dalam mencegah banjir adalah rumah pompa.

Terdapat 56 titik rumah pompa yang terpasang genset untuk mengatasi situasi apabila terjadi keterbatasan energi listrik. “Jadi kita kaver kalau listrik mati itu masih nyala, kemudian itu (solar cell – genset, Red) kita jaga supaya bisa terkaver terus,” pungkasnya. (gin/opi)

(sb/gin/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia