Rabu, 18 Sep 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Berani Simpan CD Perempuan di Tas Kerja, ‘Dipecat’ Istri

10 September 2019, 03: 55: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Tas kerjomu isine opo lur? Notebook? Pulpen? Hape? Stempel? Power bank? Jika iya, berarti kalian semua hanyalah pekerja mainstream. Kayak Donwori, 47, dong!  Berani beda. Yang tas kerjanya berisi barang super berharga plus menantang. 

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Pamit makaryo jebul gendakan. Yo ngene iki kelakuane Donwori. Iki ugo sing garai Donwori dipecat bojo. 

Seorang perempuan berwajah putih kemerahan, khas ibu-ibu rajin perawatan, tengah duduk di ruang tunggu pengacara di samping Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya, pertengahan pekan lalu. Sebut saja namanya Karin, 42. Yang kala itu tengah mengurus proses perceraiannya dengan Donwori.

Kata Karin, perselingkuhan yang dilakukan suaminya tidak bisa ditolerir lagi. "Anak-anake wes gede, kok gak nduwe kesadaran. Cek senenge gendakan. Ngono opo gak wedi ditiru anak-anake," gerutu Karin. 

Bedebahnya lagi, perselingkuhan itu ketahuan dengan cara yang super nggapleki juga. Ceritanya, beberapa waktu lalu Karin membuka tas kerja Donwori. Rencananya mau cari pulpen. Eh mak bedunduk, yang Karin temukan malah barang segitiga ajaib alias CD atau bahasa gampangnya celana dalam. "Lha kok kancut reget warnae putih sing nek njero tas," ujarnya, berseru. 

Tak terima melihat barang yang ia temukan, Karin langsung melabrak suaminya yang kala itu sedang asyik di ruang tamu. Donwori saat itu cuma melongo. "Kancute sopo iki nak njero tasmu? Wong wingi pamitmu kerjo dines, tibake iki dines ambek wong wedok," begitu kata Karin mengulang ucapannya pada Donwori. 

Donwori masih tetap diam dengan keadaan yang dialaminya. Batin Donwori, serangan itu kok tiba-tiba banget. Belum sempat berbicara, Karin sudah menyambar lagi. "Hayo, kate alasan opo kon? Barang iki nggonamu? Ra usah ngarang-ngarang alasan. Genah iki nggene wong wedok. Bari lapo ae kon!" Lanjut Karin lagi dengan amarah kian tinggi. 

Diserang dua kali, Donwori lagi-lagi tak merespons. Donwori hanya mendengar lamat-lamat pisuhannya. Yang kira-kira bunyinya begini, "C*k…,  Sephia njebak aku iki.  Jan***." Diiringi kalimat hardikan lain. 

Donwori saat itu sudah mati kutu. Mau alasan seperti apa pun, ia tidak akan bisa. Karena Karin paham, suaminya ini tipikal pria yang tak hobi bersilat lidah. 

Langsung, saat itu Karin merampas hape Donwori, ia telusuri kontak-kontak orang yang sering chat dengan suaminya. Ketemulah chat-nya Sephia yang di nomor Donwori kebetulan ditulisi Mas PLN. Biasa, alibi. 

Dari histori percakapan yang Karin telusuri, perempuan dengan nama Mas PLN ini terlihat matre. Ya minta dibelikan tas, sepatu, lipstick dan lain-lainnya. Sudah dibelikan sepatu, minta parfum. Parfum sudah ganti, minta dibelikan bilang jam tangan. Pokoknya ono ae. Bahkan, terakhir Sephia minta direnovkan dapurnya. Dari yang Karin tangkap, agaknya si Sephia ini sudah sering minta-minta ke suaminya. 

Tak mau kedawan lakon, Karin minta cerai ke Donwori. Enak saja, wong dipoligami saja tak mau, apalagi diselingkuhi. Sama Mas PLN (hehe) lagi.  Gendeng mangan semir ta? (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia