Senin, 18 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

BI Targetkan Tingkat Inklusi Keuangan Capai 75 Persen

09 September 2019, 17: 58: 26 WIB | editor : Wijayanto

Bank Indonesia

Bank Indonesia (DOK/JPNN)

Share this      

SURABAYA - Tingkat inklusi keuangan masyarakat Indonesia masih berada pada kisaran angka 49 persen pada tahun 2017 lalu. Upaya-upaya terus dilakukan Bank Indonesia (BI) agar masyarakat dapat mengakses layanan perbankan dengan mudah.

Seperti dikatakan oleh Kepala Divisi Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Jatim Ricky Satria. Menurutnya, BI optimistis angka 49 persen dapat meningkat seiring dengan pengembangan ekosistem digital.

“Kami targetkan tahun 2020, pencapaian inklusi keuangan dapat naik hingga mencapai 75 persen. Apalagi Quick Response Code Indonesia Standard (QRIS) juga diterapkan secara nasional pada tahun tersebut,” tuturnya akhir pekan lalu.

Menurut Ricky, saat ini pun, pihaknya tengah mengandeng semua aspek sebagai upaya untuk meningkatkan inklusi keuangan. “Kami buat regulasi dan lakukan inovasi-inovasi, juga mengedukasi merchant tentang mudahnya sistem pembayaran melalui scan QR code. Sehingga pada akhirnya, hal itulah yang mendorong merchant untuk membuka rekening bank dan sekaligus turut menggerakkan industri perbankan,” tambah Ricky.

Selain itu, tantangan dari masyarakat yang bukan generasi milenial membuat BI juga tak henti terus melakukan edukasi.

Sementara itu, selain diimplementasikan ke masyarakat Indonesia, QRIS disiapkan pula dapat dapat berlaku di luar negeri. Negara-negara seperti Korea Selatan, Singapura, Malaysia, Hongkong, dan Jepang sudah mulai meminta penerapan QRIS. Ricky mengatakan, untuk bisa masuk ke negara-negara tersebut, pihaknya masih menunggu regulasi negara setempat. “Ada penjajakan juga dengan Arab Saudi. Berharapnya semua bisa lancar pada tahun 2020 nanti,” ucapnya.

Namun begitu, tahun ini BI sendiri masih fokus mengedukasi QRIS di Indonesia. Unuk mencapai target inklusi keuangan sebesar yang diharapkan, BI memaksimalkan fungsi QRIS untuk menjaring lebih banyak nasabah. Karena dengan adanya QRIS yang dapat dipergunakan untuk bertransaksi untuk seluruh platform QR membuat masyarakat harus memiliki rekening.

“Contohnya saja, sekarang tukang ojek online buka rekening untuk bisa transaksi pembayaran. Atau merchant yang harus mengunduh aplikasi sebagai alat untuk pembayaran QR code,” ujar Ricky. (rul/nur)

(sb/rul/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia