Rabu, 18 Sep 2019
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Surabaya

Balet The Red Shoes, Ajak ABK Berkolaborasi di Atas Panggung

07 September 2019, 09: 20: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

HARMONIS: Sejumlah pebalet dari Premier School of Ballet berkolaborasi dengan siswa YPAC Surabaya, Kamis (5/9).

HARMONIS: Sejumlah pebalet dari Premier School of Ballet berkolaborasi dengan siswa YPAC Surabaya, Kamis (5/9). (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Jika biasanya pementasan balet dilakukan oleh orang atau anak dengan yang memiliki fisik yang lengkap, bukan orang atau anak berkebutuhan khusus (ABK), berbeda dengan pentas balet yang digelar oleh Premier School of Ballet (PSoB). Selain 100 penari dari sekolah tersebut, juga terdapat ABK Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Surabaya yang ikut serta dalam pementasan.

Pementasan yang diadaptasi dari cerita The Red Shoes karya Hans Christian Andersen. The Red Shoes berkisah tentang cinta tulus seorang laki-laki kepada perempuan yang mengabaikannya demi keinginannya menjadi seorang penari. 

Anak-anak didik YPAC ikut berkolaborasi mempersembahkan tiga nomor tari dan lagu. Melalui kolaborasi ini, diharapkan mampu menjadi inspirasi dan motivasi bagi masyarakat. 

Artistic Director PSoB Sylvi Panggawean berharap, pertunjukan balet yang memang tidak biasa ditemui Surabaya ini bisa memberikan hiburan bagi masyarakat. Selain itu, juga dapat memberikan motivasi bagi anak-anak atau remaja untuk berani mengekspresikan sekaligus menyalurkan bakatnya di atas panggung. "Khususnya yang menggemari balet, serta masyarakat umum pecinta seni pertunjukan seperti ini," terangnya di Surabaya, kemarin. 

Tak hanya itu, melalui pertunjukan yang juga menggandeng ABK ini diharapkan juga mampu mengubah stigma negatif masyarakat terhadap ABK. Sekaligus memberi motivasi kepada ABK bahwa mereka juga punya kesempatan yang sama. “Walaupun mereka ABK, tapi di masing-masing diri mereka pasti punya kelebihan di antara kekeurangan mereka,” tegasnya. 

Sylvi menambahkan, membuat gerakan-gerakan yang indah sekaligus menyampaikan pesan yang mudah ditangkap oleh penonton menjadi salah satu tantangan dalam mengadaptasi The Red Shoes. Selain menyampaikan pesan cerita dengan baik, Sylvi pun harus membuat penonton tidak merasa bosan selama 80 menit pementasan. "Maka dari itu persiapannya sudah kami lakukan lama, sekitar tujuh bulanan, dari April 2019," papar Sylvi. (cin/nur)

(sb/cin/jek/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia