Jumat, 18 Oct 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Tak Setor Modal, Tak Punya Malu, Donwori Nekat Kuasai Rumah Seisinya

04 September 2019, 03: 30: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Akhir-akhir ini, kokmakin banyak ya orang yang tak tahu diri. Kasusnya mirip-mirip, tapi motifnya sama.Demi menguasai rumah, harta dunia yang tidak dibawa mati, mereka rela pasang muka tembok.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Misalnya di Kediri sempat viral ada anak yang tega mengusir orang tua dari rumahnya sendiri.  di Sukabumi, ada istri yang membakar anak dan suami. Lah sekarang Donwori ikut-ikutan.

Hubungan rumah tangga Karin, 27, dan Donwori, 30, sudah di ambang perpisahan ketika kasus ini terjadi. Ceritanya, Karin dan Donwori sudah perang dingin selama empat bulan lamanya. Awalnya, Karin masih ngempet tinggal satu atap dengan Donwori. Hanya saja sudah jalan-jalan sendiri. Tak ada interaksi, tidak ada mengabdi layaknya pasangan suami istri. Karin masak untuk dirinya sendiri, Donwori beli makan di luar.

Karin mencuci pakaiannya sendiri, ia biarkan cucian Donwori menumpuk. Karin sibuk dengan anaknya sendiri. Donwori ketika di rumah sibuk dengan handphonenya. Pokoknya tidak ada interaksi. Sekali-kalinya interaksi, malah saling memancing amarah.

Yang terakhir, terjadi pertengkaran hebat antara Karin dan Donwori. Bahkan, kali itu diiringi dengan melukai fisik. Tak terima diperlakukan kasar, Karin kabur dari rumah seketika itu juga. “Sampeyan ngerti masalahe apa? Simpel. Areke takon kunci, cuma ora tak sauri. Eh ngamuk,” cerita Karin di Pengadilan Agama (PA) Klas IA Surabaya.

Gara-gara itu, Karin safari dari rumah saudara-saudaranya untuk mencari penginapan. Yang terakhir, ia pulang ke rumah orang tuanya. Di pikirannya, sudah tak mungkin ia balik ke suaminya. Sudah tidak ada hasrat untuk melanjutkan pernikahan.

Namun seakan tidak tahu diri, Donwori malah mengirimkan pesan yang bunyinya begini, ”Koen cek betahe ra muleh-muleh. Rasah muleh ae sekalian.” Donwori memang benar-benar tak tahu malu. “Aku dewe yo gak kate ketemu dek e maneh. Ketemu pisan tok buat minta tandatangan surat cerai,” lanjut Karin tak mau kalah gengsi.

Namun yang Karin sesalkan, kok suaminya itu tidak sadar diri gitu lho. Perceraian sudah berjalan hampir final, kok bisa-bisanya Donwori tidak segera pergi dari rumah. Padahal jika Donwori bisa berpikir jernih, kalau Donwori punya rasa malu, harusnya ia sudah minggat sejak lama.

Wong sebenarnya rumah itu dibangun di tanahnya orang tua Karin. Bahkan hingga berdiri jadi rumah seisinya, juga orang tua Karin yang keluar biaya. Donwori enak, tinggal menempati saja.

Tapi, Donwori seakan keenakan. Ditinggal pergi yang punya, ia malah merasa bebas menguasai rumah itu. Bolak-balik Karin sengaja wira-wiri di depan rumah, ia mendapati si Donwori ini enjoy sekali. Kadang rokokan di teras, kadang ngundang teman-temannya datang. Sudah macam rumah itu miliknya saja.

Mentang-mentang ditinggal prung. Tidak ditanyai dan dipermasalahkan sama empunya yang asli. “Tak tunggu disek. Sampai kapan areke gak nduwe rai ngunu. Mene lek gak sadar-sadar, ya terpaksa biar ayahku sendiri yang turun tangan,” umpat Karin. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia