Jumat, 18 Oct 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Emas Perhiasan Masih Jadi Penyumbang Inflasi Jatim

03 September 2019, 17: 29: 34 WIB | editor : Wijayanto

HARGA KIAN MELAMBUNG: Berdasarkan laporan BPS Jatim, emas perhiasanmenjadi salah satu dari tiga komoditas utama yang mendorong terjadinya inflasi di Agustus 2019.

HARGA KIAN MELAMBUNG: Berdasarkan laporan BPS Jatim, emas perhiasanmenjadi salah satu dari tiga komoditas utama yang mendorong terjadinya inflasi di Agustus 2019. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur (BPS Jatim) mencatat inflasi pada Agustus 2019 sebesar 0,12 persen secara month to month (mom) atau 2,51 persen secara year of year (yoy). Di delapan kota indeks harga konsumen (IHK) Jatim, yakni Surabaya, Madiun, Probolinggo, Malang, Kediri, Sumenep, Banyuwangi, dan Jember menunjukkan adanya kenaikan harga di sebagian besar komoditas yang dipantau.

Hal tersebut yang akhirnya mendorong terjadi kenaikan IHK sebesar 0,12 persen, yaitu dari 135,57 pada Juli 2019 menjadi 135,74 di Agustus 2019. Inflasi Agustus 2019 sedikit lebih tinggi jika dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun 2018, dimana pada Agustus 2018 mengalami inflasi sebesar 0,11 persen.

Kepala BPS Jatim Teguh Pramono menjelaskan, jika melihat tren musiman, setiap bulan Agustus selama sepuluh tahun terakhir (2010–2019) terjadi delapan kali inflasi dan dua kali deflasi. “Pada Agustus 2019, dari tujuh kelompok pengeluaran, lima kelompok mengalami inflasi dan dua kelompok mengalami deflasi,” jelasnya.

Untuk inflasi tertinggi sebesar 1,55 persen, pihaknya mencatatkan dicapai oleh kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga. Disusul kelompok sandang sebesar 1,37 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,12 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahas bakar sebesar 0,11 persen, dan terakhir kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,04 persen.

Sedangkan dua kelompok yang mengalami deflasi adalah kelompok bahan makanan sebesar 0,57 persen dan kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,17 persen.

Lebih lanjut, Teguh memaparkan emas perhiasan, biaya sekolah dasar, dan cabai rawit menjadi tiga komoditas utama yang mendorong terjadinya inflasi di Agustus 2019. “Harga emas perhiasan masih akan terus mengalami kenaikan mengikuti harga emas dunia, sehingga menjadikan komoditas utama pendorong inflasi. Dan ini terjadi di semua kota IHK di Jatim. Sedang biaya sekolah dasar ya karena memang sedang ada tahun ajaran baru. Selain itu cabai rawit juga masih mengalami kenaikan seperti pada bulan sebelumnya,” paparnya. 

Selain komoditas pendorong laju inflasi, BPS Jatim juga merilis komoditas penghambat terjadinya inflasi. Di antaranya bawang merah, tomat sayur, dan tarif angkutan udara. Menurut Teguh, melimpahnya pasokan di pasaran terkait komoditas bawang merah dan tomat sayur membuat harga kedua komoditas tersebut mengalamani penurunan di semua kota IHK di Jatim.

Sedangkan tarif angkutan udara menjadi penghambat sama seperti bulan sebelumnya. “Hal ini merupakan dampak dari peraturan pemerintah yang menurunkan tarif pesawat berbiaya murah (low cost carrier) untuk beberapa rute penerbangan,” jelas Teguh.

Dari delapan kota IHK di Jatim, Surabaya menempati urutan keempat dengan angka inflasi sebesar 0,11 persen di bawah Jember dengan angka inflasi 0,33 persen, Probolinggo 0,27 persen, dan Malang 0,19 persen. (rul/nur)

(sb/rul/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia