Jumat, 22 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Persona Surabaya
Prof Dr Ir Djwantoro Hardjito, Rektor UK Petra

Ingin Cetak Mahasiswa yang Seimbang Hard Skill dan Soft Skill

02 September 2019, 18: 34: 40 WIB | editor : Wijayanto

Rektor UK Petra Surabaya, Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng

Rektor UK Petra Surabaya, Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

Resmi dilantik pada 15 Desember 2017 oleh Yayasan Perguruan Tinggi Kristen (YPTK) Petra, kini Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng. kembali menjadi keluarga besar Universitas Kristen Petra (UKP) Surabaya.

Selama kurang lebih 11 tahun mengabdi di salah satu perguruan tinggi di Nusa Tenggara Timur (NTT), Prof. Djwantoro seperti kembali ke rumah ketika diminta memimpin UKP Surabaya.

Ditemui di ruang kerjanya, Jumat (30/8), pria dengan gelar doktor teknik sipil dari Curtin University Australia ini menceritakan kesannya terhadap UKP Surabaya kepada wartawan Radar Surabaya Nurul Afiah.

Selamat sore, Prof. Djwantoro. Sudah hampir 2 tahun kepemimpinan Prof. Djwantoro di UKP, bagaimana kesan-kesannya selama ini?

Kesan saya banyak tantangan, tentunya. Pertama dari sisi mahasiswanya ya. Jika dibandingkan dengan mahasiswa lima atau sepuluh tahun lalu, saya rasa mahasiswa sekarang sangat luar biasa sekali. Terutama dari cara mereka mempelajari sesuatu dan berinteraksi. Selain itu, perkembangan teknologi yang sangat pesat juga memiliki andil menciptakan beragam tantangan. Tak hanya untuk UKP Surabaya saja tetapi juga dunia pendidikan.

 

Selain dari mahasiswa dan pesatnya perkembangan teknologi, apalagi tantangan yang harus dihadapi?

Kehadiran dan hilangnya profesi-profesi yang sebelumnya tidak diprediksi. Saya sering dengar, profesi yang mungkin dulu tidak terpikirkan, tapi sekarang jadi incaran bahkan favorit di masyarakat. Atau sebaliknya. Yang mungkin sekarang jadi favorit, nanti lima tahun lagi sudah tergantikan oleh jenis profesi lain. Dan itu yang akhirnya membuat kami atur strategi, merancang, sekaligus menganalis kira-kira jenis profesi apa yang akan dibutuhkan di masa mendatang.

Lalu, apa saja yang akan Prof. Djwantoro untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut?

Kami lakukan pembenahan di masing-masing program studi (prodi) ya. Ditinjau ulang kembali semua prodi yang UKP Surabaya punyai, kurikulumnya kami lihat kembali agar lebih relevan dengan keadaan saat ini.

Contoh pembenahannya seperti apa, Prof?

Misalnya kami akan banyak memasukkan literasi-literasi tentang big data dan internet of think. Selain itu, saya pernah baca hasil survei yang diterbitkan oleh World Economic Forum (WEF), mereka mengidentifikasi beberapa main skill yang harus dimiliki oleh generasi muda, yang mana skill­-nya itu tidak bisa digantikan oleh otomasi. Ada complex problem solving, creative thinking, people management, teamwork, cognitive flexibility, dan lainnya. Jadi meski hadir otomasi, main skill tadi tidak terlupakan. Apalagi soft skill.

Nah, melihat itu semua, kami sedang menyiapkan kurikulum yang holistik. Kami sebut whole person education. Harapannya agar mahasiswa tidak hanya pintar di akademik saja, tetapi juga memiliki soft skills yang baik.Tentunya mahasiswa UKP Surabaya juga kami didik untuk mau belajar ilmu baru. Baik ilmu yang didapat dari perkuliahan maupun dari masyarakat. Jadi bisa seimbang antara hard skill dan soft skill.

Kalau untuk hadirnya rektor asing di dunia pendidikan Indonesia, bagaimana tanggapan Prof. Djwantoro?

Kalau saya, sama sekali tidak menentang ya. Karena apa? Karena harus diakui dunia pendidikan kita harus banyak berubah. Nah untuk bisa membuat perubahan itu terjadi, harus ada trigger. Dan rektor asing cukup bisa jadi trigger agar kita tidak kalah saing. Kalau saya lihat, malah rektor asingnya yang sulit beradaptasi dengan regulasi pendidikan Indonesia yang sangat ketat. Bagi saya, kehadiran rektor asing justru bisa mendorong persaingan sehat untuk memajukan pendidikan Indonesia.

Contohnya saja Malaysia. Negara maju seperti mereka sudah lebih dulu welcome dengan rektor asing. Dan bisa kita lihat, kemajuan di sana sangat pesat sekali. Selama 5 tahun saya jadi dosen di Malaysia, rektornya ya orang asing. Bahkan dosen-dosen asing juga sangat banyak di sana. Karena kembali ke regulasi tadi, di Malaysia memang tidak seketat Indonesia. Jadi mereka lebih mudah untuk rekrut dosen-dosen asing. Jadi, memang kehadiran dosen asing memang tidak bisa dibendung, agar kita mau berkembang, tidak hanya ada di zona nyaman.

Nggak usah jauh-jauh. Kita ambil contoh sosok Bu Risma (Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya, Red). Kehadiran Beliau memang pro kontra tapi nyatanya kini Surabaya tertata rapi, taman di mana-mana, pedestrian juga nyaman. Sama dengan Bu Risma, hadirnya rektor asing juga diharapkan bisa mendobrak zona nyaman yang selama ini mengungkung.

Sebentar lagi, UKP Surabaya akan merayakan dies natalis ke-58, apa saja Prof yang sudah dipersiapkan?

Dies natalis menjadi salah satu momen keluarga besar UKP Surabaya untuk kembali menoleh ke belakang. Bagaimana perjalanan individu-ndividu yang berkomitmen menghadirkan pendidikan terbaik di Kota Surabaya. Dari yang dulunya harus pindah-pindah gedung sampai akhirnya menetap di sini sampai sekarang. Bertahap ya dan Puji Tuhan semuanya terberkati. Visi awal ini yang sampai sekarang tetap kami pegang teguh.

Tapi secara teknis, ada beberapa kegiatan yang mulai kami gagas dari sekarang. Target besarnya, di 22 September 2021 (dies natalis ke-60, Red) akan ada peluncuran buku sebanyak 60 buah.

 

Wah sudah mulai dipersiapkan dari sekarang ya, Prof? Nantinya isi buku itu tentang apa saja?

Ya harus dikerjakan dari sekarang. Karena harus dibagi siapa yang nulis, apa topiknya. Kesannya kami menantang para dosen untuk berkontribusi. Nah caranya dengan menulis buku sesuai dengan bidang keilmuan masing-masing. Supaya ilmunya juga untuk orang lain.

Saya pun tahu ada beberapa dosen dari prodi lama ya yang juga banyak memiliki pengalaman praktis. Sering terlibat dengan proyek di lingkup Surabaya juga. Misalnya waktu amblesnya Jalan Raya Gubeng Desember lalu, dosen UKP Surabaya juga dilibatkan sebagai tim ahli. Nah pengalaman-pengalaman seperti itu kan kalau nggak ditulis ya sayang.

Setelah menerima penghargaan Anugerah Sistem Penjaminan Mutu Internal (SIPMI) dari Kemenristekdikti, apa target UKP Surabaya selanjutnya?

Saat ini kami memang sedang proses perizinan untuk mendirikan fakultas kedokteran. Orientasinya lebih ke Indonesia Timur. Jadi kuota mahasiswa yang berasal dari sana akan lebih banyak. Harapannya sih setelah selesai studi, mereka kembali ke daerahnya untuk mengabdi dan membangun kotanya masing-masing. Ini sesuai juga dengan apa yang diinginkan oleh Menristekdikti kalau Indonesia Timur masih perlu banyak yang harus dibenahi.

Seperti yang sudah saya sebut sebelumnya, UKP Surabaya sedang kembali menata ulang prodi-prodinya agar bisa menjawab tantangan di era revolusi industri 4.0. Misalnya belum lama ini kami me-launching International Program in Digital Media (IPDM) yang bernaung di Prodi Desain Komunikasi Visual (DKV). Di IPDM fokusnya bakal lebih ke game art, game technology, animation, dan visual effect. Kami lihat industri kreatif itu salah satu industri utama, apalagi potensi anak-anak muda Indonesia itu sangat bagus.

Terakhir, Prof, ada pesan apa untuk para mahasiswa yang baru saja diwisuda dua hari lalu?

Pesan saya adalah zaman boleh berubah tapi mereka tetap harus jadi pemenang. Harus jadi orang berguna bagi masyarakat. Jangan malas untuk belajar hal-hal baru. Apalagi selama perkuliahan UKP Surabaya telah membekali mereka dengan mata kuliah (matkul) yang sifatnya service learning.

Artinya mahasiswa harus turun langsung melayani masyarakat, belajar kearifan lokal dari lingkungan sekitar seperti sopan santun, menghargai perbedaan, dan masih banyak lainnya. Adanya service learning seperti ini tentu bisa menyeimbangkan antara hard skill dan soft skill. (*/opi)

(sb/rul/jay/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia