Sabtu, 14 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Diduga Korupsi Pengadaan Kapal Floating Crane, Rekanan PT DPS Ditahan

28 Agustus 2019, 18: 07: 32 WIB | editor : Wijayanto

DITAHAN: Tersangka Adri Siwu (bertopi) saat dibawa menuju Rutan Kajati Jatim.

DITAHAN: Tersangka Adri Siwu (bertopi) saat dibawa menuju Rutan Kajati Jatim. (YUAN ABADI/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim menahan Adri Siwu lantaran diduga terlibat kasus korupsi pengadaan kapal floting crane PT Dok dan Perkapalan Surabaya (DPS). Sebelumnya, sales representatif A&C Trading Network, rekanan PT DPS tersebut, sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Adri menjalani pemeriksaan sebagai tersangka selama hampir tujuh jam di ruang penyidik Pidana Khusus (Pidsus) Kejati Jatim. Dari hasil pemeriksaan itu, penyidik memutuskan untuk melakukan penahanan. Tersangka ditahan di Rutan Kejati Jatim.

"Tersangka ini hasil dari pengembangan. Andri dalam putusan (terdakwa dalam perkara yang sama,Red) disebutkan diduga terlibat dalam korupsi PT DPS," kata Kepala Kejati Jatim, Sunarta.

Terkait peran tersangka, Sunarta mengungkapkan bahwa tersangka merupakan pihak yang menghubungkan antara PT DPS dengan A&C Trading Network.  "Tersangka kami tahan untuk 20 hari ke depan, untuk mempermudah proses pemeriksaan," tandas Sunarta. 

Dalam perkara ini, Adri dijerat pasal 2 ayat (1), pasal 3 junto pasal 18 UU No. 31/1999 sebagaimana diubah menjadi UU No. 20/2001 tentang Tipikor junto pasal 55 ayat (1) KUHP. Perkara ini bermula ketika pada 2015, PT DPS mendapat Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp200 miliar.

Dari jumlah itu, Rp100 miliar di antaranya digunakan untuk membeli kapal floating crane. Rekanan dalam pengadaan kapal ini adalah PT A&C Trading Network. 

Meski alokasi anggarannya sebesar Rp100 miliar, namun harga kapal sendiri dibeli seharga Rp 63 miliar. Kapal floating crane yang diibeli, berasal dari Rusia. Sayangnya, kapal tersebut bukan kapal baru. Melainkan kapal bekas buatan tahun 1973.

Ketika kapal itu dibawa ke Indonesia, ternyata tenggelam di laut China. Dengan begitu, negara tidak mendapat kemanfaatan dari pembelian kapal tersebut. 
Perkara ini juga menyeret mantan Direktur Utama PT DPS, Riry Syeried Jetta sebagai terdakwa.

Direktur Utama A&C Trading Network Antonius Aris Saputra juga sudah divonis 16 tahun penjara oleh majelis hakim Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya. (yua/rud)

(sb/yua/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia