Minggu, 22 Sep 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Hipakad Tak Terlibat di Kalasan, Solusi Papua Tidak Bisa Instan

23 Agustus 2019, 07: 20: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

TEMU MEDIA: Ketua DPD Hipakad Jatim Priyo Effendi (tengah) memberikan keterangan kepada para jurnalis seputar masalah Papua, Kamis (22/8).

TEMU MEDIA: Ketua DPD Hipakad Jatim Priyo Effendi (tengah) memberikan keterangan kepada para jurnalis seputar masalah Papua, Kamis (22/8). (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Airlangga Pribadi menilai masalah Papua membutuhkan penanganan yang komprehensif dan tidak bisa diselesaikan dengan instan. Menyelesaikan konflik di Papua tidak hanya melibatkan unsur-unsur pemerintah, tapi juga seluruh masyarakat Indonesia.

Hal ini disampaikan dosen FISIP Universitas Airlangga Surabaya Airlangga Pribadi dalam diskusi publik Merawat Kebhinnekaan, Tangkal Ekstremisme dengan Memperkuat Kesadaran ber-Pancasila di kampus Unair Surabaya. Menurut doktor ilmu politik lulusan Murdoch University itu, untuk memecahkah persoalan Papua yang paling penting adalah pemahaman tentang masyarakat Papua, baik dari sisi sosial, budaya maupun politik.

"Mereka adalah bagian dari masyarakat Indonesia yang harus diperlakukan sebagaimana sesama anak bangsa, sebagai warga negara yang harus dihormati, yang memiliki hak-hak sipil dan politik dan menjadi bagian dalam naungan NKRI," ucapnya.

Airlangga menilai peristiwa Papua itu mengingatkan pentingnya membangun penghormatan atas Kebhinnekaan yang kini belum disadari oleh berbagai pihak. Selain itu, yang paling penting ketika menghormati kebangsaan adalah pengamalannya dan bisa muncul respek serta tidak bersikap rasialis terhadap sesama anak bangsa. "Saya yakin Papua bisa damai, apabila kita mampu memahami persoalan manusia," katanya.

Sementara itu, Ketua DPD Himpunan Putra Putri Keluarga Angkatan Darat  (Hipakad) Jawa Timur Priyo Effendi memastikan pihaknya tidak terlibat dalam kegiatan di Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan, Surabaya, Jumat (16/8). "Jangankan terlibat, datang saja tidak karena memang tidak ada arahan sebelumnya," ujarnya, Kamis (22/8).

Priyo menyesalkan adanya ormas yang datang ke asrama mahasiswa di Kalasan. Ia juga menyayangkan keluarnya kata-kata yang tidak baik yang ditujukan kepada mahasiswa Papua. Menurut dia, hal tersebut justru dimanfaatkan oleh pihak lain sehingga bisa memperkeruh suasana baik di Surabaya maupun Papua. 

Dia mengaku memahami betul karakter masyarakat Papua karena sering ke Papua dan punya banyak teman di sana. "Karakter mereka itu tidak akan menyakiti kalau tidak disakiti. Toh, mereka disini untuk belajar bukan bertujuan lain," katanya. (mus/rek)

(sb/jpg/jek/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia