Jumat, 22 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Surabaya

Sering Konstipasi dan BAB Berdarah, Waspadai Kanker Kolorektal

22 Agustus 2019, 22: 41: 32 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi kanker kolorektal

Ilustrasi kanker kolorektal (NET/DEHERBA)

Share this      

SURABAYA -Jika mengalami diare dan konstipasi berkepanjangan, anda perlu waspada. Karena bisa jadi, hal itu adalah pertanda munculnya kanker kolekteral atau biasa disebut kanker usus besar.  

Diare memang merupakan salah satu gejala umum yang terjadi pada pasien kanker kolorektal. Selain diare, biasanya diikuti oleh darah pada tinja dan buang air besar yang terasa tidak tuntas. Selain itu, terdapat gejala-gejala pendukung lain. Seperti mual, muntah, sakit perut, lelah, lemas dan penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas. 

Jika beberapa gejala ini terjadi secara bersamaan, maka sebaiknya segera memeriksakan diri. Karena gejala -gejala di atas menunjukkan bahwa kanker kolorektal sudah berkembang lama. 

Dokter spesialis bedah digestif dr. Edwin Donardono,Sp B-KBD menyebutkan, kanker kolorektal sifatnya juga sama seperti kanker pada umumnya yang sulit terdeteksi secara dini. Jika terjadi gejala di atas, bisa jadi, kanker sudah terbentuk sejak sepuluh hingga lima belas tahun sebelumnya. 

Kanker kolorektal merupakan pembunuh nomor tiga dari semua jenis kanker. Karena kanker ini bisa menjalar atau mestastase hingga menyerang organ vital. Seperti paru-paru dan liver. "Jika sudah pada stadium empat perlu diwaspadai," papar dokter di Rumah Sakit Adi Husada ini. 

Semakin tinggi usia seseorang, kemungkinan menderita kanker kolekteral juga semakin besar. 9 dari 10 penderita kanker kolorektal berusia di atas 50 tahun. Penyebab kanker koloektal belum diketahui secara pasti. Biasanya, pasien yang memiliki keturunan mengidap kanker kolekteral juga berpotensi kanker kolorektal. Pun pada pasien polip.

Selain itu, gaya hidup yang tidak sehat juga bisa menjadi salah satu pemicu munculnya kanker kolorektal. Misalnya dengan pola makan yang salah. Seperti mengkonsumsi makanan yang mengandung banyak zat aditif seperti pewarna, pengawet dan dan arang. Gaya hidup yang buruk lain seperti obesitas, jarang berolahraga, konsumsi alkohol, kurang serat, juga diyakini sebagai salah satu pemicu tumbuhnya kanker. 

Pemeriksaan yang digunakan untuk diagnosis kanker kolorektal lumayan berantai. Di antaranya adalah periksa FOBT, bila positif diakukan dengan periksa colok dubur. "Jika dengan colok dubur tidak ditemukan sumber pendarahan, maka dilakukan pemeriksaan proktoskopi," imbuhnya.

Jika melalui protoskopi juga tidak menunjukan hasil, pasien bisa dirujuk ke faskes sekunder untuk kolonoskopi. Yakni evaluasi kondisi bagian dalam rektum dan usus besar. Sama seperti kanker lain, diagnosis dan penanganan lebih dini dapat meningkatkan kemungkinan sembuh penyintas. (is/nur)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia