Sabtu, 21 Sep 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

BPS Catat Impor Buah Jatim Naik USD 30 Juta

21 Agustus 2019, 23: 45: 17 WIB | editor : Wijayanto

TREN TAHUNAN: Pekerja menata buah impor dan lokal di salah satu gerai ritel modern di Surabaya.

TREN TAHUNAN: Pekerja menata buah impor dan lokal di salah satu gerai ritel modern di Surabaya. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Badan Pusat Statistik Jawa Timur (BPS Jatim) mencatatkan impor buah-buahan dan ampas makanan meningkat cukup signifikan di Bulan Juli 2019 dibandingkan bulan sebelumnya. Untuk buah-buahan naik 153,76 persen dan ampas bahan makanan sebesar 124,29 persen.

Kepala BPS Jatim Teguh Pramono menyebutkan, secara persentase yang mengalami lonjakan impor besar adalah buah-buahan, dari USD 19,77 juta ke USD 50,17 juta atau naik sekitar USD 30,4 juta. Sedangkan ampas makanan dari sebelumnya USD 49,8 juta ke USD 111,6 juta atau naik sekitar USD 61,8 juta.

Adapun beberapa komoditas buah-buahan yang masuk ke Jatim, di antaranya anggur, pear, kelengkeng, lemon, plum, dan jeruk mandarin. "Impor buah ini naik lebih dari 100 persen," terangnya.

Menurut Teguh, berdasarkan analisa BPS Jatim, naiknya impor buah-buahan tersebut dipengaruhi usai tertahannya aktivitas ekspor selama Ramadan lalu. Libur dua pekan membuat pengiriman buah dari beberapa negara seperti Tiongkok tersendat. "Tren ini sebenarnya biasa setiap tahun. Tahun lalu pun demikian, setelah usai liburan lebaran beberapa komoditas impor meningkat," ungkapnya.

Sementara, untuk kenaikan ampas bahan makanan, Teguh menyampaikan, datang dari Amerika Serikat dan Brasil. Masuknya ampas bahan makanan ini salah satunya sebagai bahan pakan ternak. "Ampas bahan makanan ini sari minyak kedelai. Karena itu tergolong ampas bahan makanan," kata Teguh.

Adapun sepanjang Juli 2019, total impor Jatim mencatatkan USD 1,91 miliar. Angka ini dibanding Juni 2019 meningkat cukup besar 27,49 persen. Sedangkan ekspor Jatim selama Juli 2019 sebesar USD 1,78 miliar, turun 25,31 persen dibanding Juni 2019.

Dengan begitu, selama Juli kinerja neraca perdagangan Jatim defisit sekitar USD 22 juta. Tren ini disebutkan Teguh tidak berbeda jauh dengan tahun 2018. (cin/nur)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia