Selasa, 15 Oct 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya
Usut Provokator dan Penyebar Hoaks

Insiden Surabaya-Malang Jadi Pemicu Rusuh Papua, Gubernur Minta Maaf

20 Agustus 2019, 16: 18: 16 WIB | editor : Wijayanto

KUNJUNGI JATIM: Gubernur Khofifah saat mendampingi Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian bersama Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan usai membesuk korban penyerangan teroris, Ipda Agus Sumarsono, di RS Bhayangkara Surabaya.

KUNJUNGI JATIM: Gubernur Khofifah saat mendampingi Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian bersama Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan usai membesuk korban penyerangan teroris, Ipda Agus Sumarsono, di RS Bhayangkara Surabaya. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meminta maaf terkait peristiwa yang menimpa mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang. Sebab insiden ini yang diduga menjadi pemicu kerusuhan di Manokwari, Papua Barat.

"Saya ingin menyampaikan permohonan maaf atas nama masyarakat Jatim. Bahwa, sekali lagi, itu tidak mewakili masyarakat Jatim," ujar Khofifah saat mendampingi Kapolri Jenderal Tito Karnavian di RS Bhayangkara Polda Jatim, Surabaya, Senin (19/8).

Khofifah menambahkan, insiden di Asrama Mahasiswa Papua Surabaya diduga dilakukan oknum-oknum yang kurang bertanggung jawab. Selain itu, ada oknum yang memanfaatkan untuk provokasi menyulut kemarahan massa.

"Terkonfirmasi beberapa elemen yang menimbulkan sensitivitas. Ada kalimat yang kurang sepantasnya terucap," sambungnya.

Mantan menteri sosial itu memberikan garansi bahwa seluruh mahasiswa Papua di Jatim yang sedang studi akan terjaga keamanannya. Mereka akan terlindungi layaknya semua warga negara. "Saya berharap mereka tetap bisa  melanjutkan studinya dengan baik," katanya.

Ketua Ikatan Keluarga Besar Papua di Surabaya (IKBPS) Piter Frans Rumaseb meminta saudara-saudari di Papua dan Papua Barat tidak usah mengkhawatirkan kondisi di Surabaya.

"Kami berharap mama dong semua di Papua, bahwa kita di Surabaya aman," ucapnya ditemui di Mapolda Jatim.

Piter juga menyebutkan bahwa anak-anak Papua di Surabaya berkuliah dengan aman. Keluarga di Papua tak usah khawatir berlebihan dan untuk lebih menahan diri.

"Saya akui memang sebelumnya ada 43 orang mahasiswa diamankan hari Sabtu (17/8). Namun, semua sudah dipulangkan ke asrama. Tidak ada diskriminasi," bebernya.

Pihaknya juga meminta masyarakat di Papua tidak mudah terprovokasi berita hoaks maupun isu yang disebar melalui media sosial (medsos).

Saat ini di Surabaya ada sekitar 1.000 warga baik yang kuliah maupun bekerja. "Mereka tergabung dalam 27 korwil mulai dari Surabaya Timur hingga Surabaya Barat," katanya.

(sb/rus/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia