Minggu, 22 Sep 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Penggabungan Batasan Produksi Rokok Beratkan Industri

19 Agustus 2019, 18: 08: 49 WIB | editor : Wijayanto

TAK SETUJU: Rencana pemerintah menggabungkan akumulasi batasan produksi SKMdan SPM dinilai akan memberatkan industri hasil tembakau, khususnya golongan kecil dan menengah.

TAK SETUJU: Rencana pemerintah menggabungkan akumulasi batasan produksi SKMdan SPM dinilai akan memberatkan industri hasil tembakau, khususnya golongan kecil dan menengah. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Rencana pemerintah menggabungkan akumulasi batasan produksi sigaret kretek mesin (SKM) dan sigaret putih mesin (SPM) dinilai kalangan pelaku usaha industri kretek nasional memberatkan industri hasil tembakau (IHT). Terutama industri golongan kecil dan menengah. Oleh sebab itu, mereka juga tidak setuju jika rencana simplifikasi struktur tarif cukai dijalankan.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Gabungan Pengusaha Rokok (Gapero) Surabaya Sulami Bahar. Pihaknya mewanti-wanti agar pemerintah tidak menerapkan simplifikasi. Menurut Sulami, struktur tarif cukai saat ini yang terdiri dari 10 golongan sudah mencerminkan kondisi IHT yang terdiri dari 437 pelaku industri dengan rentang variasi produksi sangat luas.

"Simplifikasi struktur tarif cukai akan menyebabkan terpukulnya pabrik golongan kecil, yang ujung-ujungnya hilangnya lapangan pekerjaan," kata Sulami.

Sulami mengingatkan pemerintah, bahwa dampak penggabungan SKM dan SPM akan menciptakan persaingan tidak sehat, karena menyebabkan pengusaha pabrik golongan menengah dan kecil terdampak. Yakni mengalami lonjakan tarif cukai dan harga jual eceran (HJE) akibat naiknya golongan.

"Dalam konteks persaingan usaha, hal ini akan melemahkan pengusaha golongan menengah kecil, serta menguntungkan pengusaha pabrik dominan di segmen SKM maupun SPM," imbuhnya.

Sulami pun meminta pemerintah bersimpati atas kondisi IHT saat ini yang sedang terpuruk dengan menurunnya volume secara drastis. Ada penurunan 1 – 2 persen selama 4 tahun terakhir. Merujuk hasil riset Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7 persen.

Agar kebijakan cukai tahun 2020 mencerminkan asas keadilan, Gapero Surabaya memberikan beberapa masukan penting pada pemerintah. Pertama, perlunya perlindungan dalam bentuk insentif tambahan bagi golongan sigaret kretek tangan (SKT) yang merupakan segmen padat karya. "SKT adalah segmen IHT yang menyerap tenaga kerja terbanyak," ujarnya.

Kedua, dalam rangka memperlambat tren penurunan yang terus dialami IHT, hendaknya pemerintah memberikan preferensi tambahan untuk segmen SKT. Antara lain perluasan batas jumlah produksi khususnya golongan II dan III, preferensi tarif cukai dan HJE semua golongan, yakni golongan I, II dan III. "Ketiga, kenaikan tarif dan HJE berdasarkan pada inflasi," kata Sulami.

Keempat, pengendalian harga transaksi pasar (HTP) dengan pembatasan minimum 85 persen dari HJE hendaknya tetap dipertahankan. "Salah satu dampak simplifikasi adalah maraknya rokok ilegal. Karena itu, Gapero Surabaya mendukung pemerintah untuk peningkatan pemberantasan rokok ilegal. Pasalnya, rokok ilegal akan merugikan penerimaan negara," terangnya.

Untuk diketahui, penggabungan batas produksi SKM dan SPM melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 146 Tahun 2017 sebelumnya telah dibatalkan pemberlakuannya melalui PMK Nomor 156 Tahun 2018 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau. (cin/nur)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia