Sabtu, 21 Sep 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Jamaah Haji Kloter Awal Tiba, Tetap Dipantau Selama 21 Hari ke Depan

19 Agustus 2019, 16: 18: 08 WIB | editor : Wijayanto

TIBA DI INDONESIA: Sejumlah jamaah haji Kloter 1 asal Magetan tiba di Bandara Internasional Juanda, Minggu (18/8).

TIBA DI INDONESIA: Sejumlah jamaah haji Kloter 1 asal Magetan tiba di Bandara Internasional Juanda, Minggu (18/8). (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Jamaah haji Kloter 1, 2, dan 3 tiba di Asrama Haji Debarkasi Surabaya, Minggu (18/8). Kondisi kesehatan mereka tetap dipantau selama 21 hari sejak tiba di tanah air.

Jamaah haji asal Kabupaten Magetan ini tiba pada pukul 05.30, disusul Kloter 2 asal Kabupaten Ngawi, Kabupaten Ponorogo, dan Kota Surabaya pada pukul 09.00. Jamaah haji Kloter 3 asal dari Ponorogo tiba pada pukul 11.45.

Sesampainya di asrama haji, jamaah langsung menuju ke Hall Mina dan Zaitun untuk menjalani pemeriksaan kesehatan. Suhu mereka dicek. Dilanjutkan pemeriksaan paspor dan mendapatkan air zamzam.

Pantauan Radar Surabaya, jamaah haji begitu turun dari bus langsung Kepala Bidang Pengendalian Kekarantinaan dan Surveilans Epidemiologi KKP Kelas I Surabaya Budi Santoso mengatakan, pemeriksaan suhu tubuh jamaah haji dilakukan untuk mencegah virus berbahaya selama berada di Arab Saudi. PPIH memasang alat thermal body scanners untuk memantau kondisi suhu tubuh jamaah.

Ada sejumlah virus yang diwaspadai, antara lain, flu arab karena adanya kontak dengan unta, virus ebola yang kemungkinan dibawa jamaah Afrika, serta meningitis. Ini karena jutaan jamaah membeludak saat proses ibadah haji di Tanah Suci.

"Kita lihat suhu tubuhnya normal atau tidak. Kalau tidak normal, maka kami periksa lebih lanjut," kata Budi Santoso.

Suhu normal badan manusia sekitar 37 derajat. Kemarin, ada jamaah haji yang suhu badannya 38 derajat alias tidak normal. Tim dokter pun melakukan pemeriksaan lanjutan di asrama. Kondisi tubuhnya dipantau setelah satu jam.

Apabila suhu tubuhnya turun atau normal, maka akan dipulangkan ke daerahnya. "Kalau tidak ada perubahan, maka kami isolasi. Lalu, dirujuk ke Rumah Sakit Haji atau RSUD dr Soetomo," katanya.

Selain itu, jamaah haji yang sudah kembali ke daerah masing-masing tetap dipantau kesehatannya selama 21 hari pascakedatangan. Pihak PPIH juga memberikan kartu kewaspadaan kesehatan jamaah haji (KKJH).

Kartu ini digunakan untuk pemeriksaan ke puskemas terdekat jika mengalami flu dan demam. "Sebab, flu ini berbeda dengan flu atau demam biasa. Dikhawatirkan, ada virus yang dibawa dari sana (Arab Saudi)," ucapnya.

Budi menyebut ada dua jamaah haji yang masih tertinggal di Arab Saudi karena menjalani perawatan medis dan tiga orang meninggal dunia.

Informasi yang dihimpun Radar Surabaya, dua jamaah yang sakit adalah Sarmin Martorejo (Kloter 1 asal Magetan) yang stroke. Saat ini dia dirawat di RS Annur, Makkah.

Kemudian Sarbini (Kloter 2 asal Ponorogo) yang sakit komplikasi tengah dirawat di Klinik Kesehatan Jamaah Haji (KKJH) di Makkah. Tiga jamaah haji yang wafat adalah Amin Sutikno (Kloter 2 asal Ngawi), Kemin dan Supiah (Kloter 3 asal Ponorogo).

Sekretaris PPIH Debarkasi Surabaya Jamal mengungkapkan kegembiraannya atas kedatangan jamaah haji dari Tanah Suci. "Alhamdullilah, jamaah haji sudah kembali ke Tanah Air meski ada beberapa yang sakit dan meninggal dunia. Kami doakan agar diberikan kesembuhan dan bisa pulang. Untuk jamaah yang meninggal dunia, kami doakan agar diterima di sisi Allah SWT," katanya.

Menurut dia, jamaah haji yang meninggal dunia di Tanah Suci akan mendapatkan asuransi. Dia mengimbau ahli waris untuk tidak menoaktifkan terlebih dahulu buku rekening dari jamaah yang meninggal.

"Sebab, nantinya asuransi tersebut akan masuk ke rekening jamaah yang meningggal. Kemudian diterima oleh ahli waris," katanya.

Salah satu jamaah haji asal Ponorogo, Budiono, mengaku bersyurukur bisa pulang dalam keadaan sehat walafiat.

Dia menyebut sistem zonasi di Makkah sangat membantu jamaah dalam berkoordinasi sesama anggota kelompok terbang. "Makanannya juga disesuaikan dengan lidah orang Jawa Timur," katanya.

Budiono mengungkapkan bahwa selama di Madinah sempat terjadi keterlambatan makanan. Namun, dia bisa memaklumi karena jumlah jamaah sangat banyak.

"Tapi keseluruhan sudah baik. Hotelnya baik, air di hotel juga melimpah. Kami apresiasi kepada pemerintah Indonesia," pungkasnya. (rmt/rek)

(sb/rmt/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia