Kamis, 19 Sep 2019
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

ABG Ini Jadi Pengedar dan Kurir Sejak Lulus SMA

19 Agustus 2019, 16: 11: 09 WIB | editor : Wijayanto

DITAHAN: Tersangka Alif Ramadhan dan barang bukti narkoba dagangannya.

DITAHAN: Tersangka Alif Ramadhan dan barang bukti narkoba dagangannya.

Share this      

SURABAYA - Di usianya yang masih muda, Alif Ramadhan, 20, sudah harus merasakan dinginnya lantai tahanan. Pemuda yang tinggal di Jalan Pakis Sidorejo, Gang III/13, Surabaya, ini ditangkap tim Satresnarkoba Polrestabes Surabaya. Alif ditangkap lantaran menjadi pengedar sekaligus kurir narkoba.

Alif ditangkap di gang masuk rumahnya, Kamis (15/8). Polisi sudah mengintai sepak terjang Alif beberapa hari sebelumnya. Sebab, berdasarkan informasi dia merupakan kurir narkoba yang sering mengirimkan sabu-sabu (SS) di Surabaya dan sekitarnya.

“Kami intai. Saat kami tangkap, tersangka usai melakukan transaksi di kawasan Dukuh Kupang,” ungkap Kasat Resnarkoba Polrestabes Surabaya Kompol Memo Ardian.

Dari tangan tersangka, polisi tak menemukan barang bukti. Namun, Alif dikeler ke rumahnya untuk penggeledahan. Setiap sudut rumah digeledah, termasuk kamar tidurnya. Polisi juga membuka salah satu laci lemari pakaian tersangka.

“Kami temukan barang bukti berupa sepuluh poket SS seberat 4,72 gram. Puluhan plastik klip juga kami amankan,” terangnya.

Menurut Memo, sabu-sabu yang sudah siap edar tersebut diduga merupakan titipan dari salah seorang pengedar atau bandar. Sedangkan tersangka ditugaskan untuk mengantarkan sabu sesuai pesanan dan perintah si bandar. Polisi masih mengembangkan kasus ini.

“Sebab, kami menduga tersangka juga menjadi pengedar,” tandasnya.

Mantan Kasat Reskrim Polres Balerang, Batam, ini menyebutkan, barang haram tersebut dipasok dari seorang bandar berinisial FDN (buron). Sedangkan tersangka sudah hampir tiga tahun menjadi kurir. Tepatnya sejak lulus SMA.

“Awalnya ia hanya memakai sabu. Namun, belakangan, tersangka dipercaya untuk mengantarkan pesanan narkoba itu,” ujar Memo.

Perwira dengan satu melati di pundaknya ini juga mengungkapkan, Alif dimanjakan dengan iming-iming agar aktif di jaringan ini. Yakni, menikmati SS secara gratis dan mendapatkan komisi untuk setiap poket yang diantar. “Tersangka diberi upah Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu,” terangnya.

Kepada polisi, Alif mengaku menyesal dan tak akan kembal ke dunia narkoba. Sebab, sebenarnya ia sudah lama ingin meninggalkan bisnis itu, tapi sulit. Sebab, ia sering kali diancam jika keluar dari jaringan.

“Banyak tekanan. Mulai diminta mengambalikan uang penjualan hingga mengancam akan membocorkan identitas saya kepada polisi,” ujarnya. (yua/rek)  

(sb/yua/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia