Kamis, 19 Sep 2019
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Diduga Juga Terpapar Paham Radikal, Anak dan Istri IM Ikut Diamankan

19 Agustus 2019, 14: 24: 47 WIB | editor : Wijayanto

BERUBAH SEJAK 2 TAHUN: Polisi hendak memasang police line di rumah kos pelaku IM yang menyerang Polsek Wonokromo.

BERUBAH SEJAK 2 TAHUN: Polisi hendak memasang police line di rumah kos pelaku IM yang menyerang Polsek Wonokromo. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA – Tak hanya pelaku Imam Musthofa yang berubah perilakunya setelah aktif mengikuti pengajian di musala dekat sekolah anaknya. Perubahan juga dialami istrinya inisial SF.

Warga setempat menceritakan, dulu Imam dan istrinya, SF, bekerja di cleaning service. Namun, saat ini SF hanya berjualan sempol di sekolah anaknya. Penampilannya pun berubah menggunakan cadar.

"Kalau Pak Ali (Imam), sehari-hari jualan makaroni dan ditipkan ke warung-warung terdekat," tuturnya.

Ahmad, warga setempat, mengaku terkejut mendengar Imam Musthofa alias Ali nekat menyerang kantor polisi dan berani membacok salah satu polisi, Sabtu (17/8) petang.

Sebab sehari-hari, Imam alias Pak Ali dikenal sebagai pribadi yang kalem, tak banyak bicara, dan berkelakuan baik di kampung. Namun diakui Ahmad, setelah mengikuti pengajian di sebuah musala di dekat sekolah anaknya yang bernama Ali, pelaku jadi tertutup dan berubah sikap sejak dua tahun terakhir.

Karena itu setelah pelaku diamankan, istri dan anak pelaku pun ikut diamankan Densus 88 Mabes Polri untuk diperiksa. "Sekitar jam delapanan malam, istri pelaku dan anaknya dibawa petugas," ujar istri Ketua RT 03 RW 02, Sidosermo, Nunung, saat ditemui di rumahnya.

Dia menambahkan, petugas juga membawa laptop, handphone (HP), kertas (diduga berisi ajaran radikal) dari kamar pelaku.

Nunung menceritakan, pelaku dan istrinya memang berubah perilakunya dua tahun belakangan ini. "Memang dia ibadahnya rajin," katanya.

Imam dan anaknya setiap hari salat di musala di kawasan sekolah anaknya tersebut. Sedangkan sang istri, setiap diajak kegiatan Posyandu di kampung, selalu menolak lantaran mengaku dilarang suaminya. (rus/rek)

(sb/rus/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia