Senin, 09 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Prihatin Braille Mahal, Ciptakan Aplikasi Udzkuruni

13 Agustus 2019, 17: 42: 29 WIB | editor : Wijayanto

SUPPORT: Aplikasi berbasis Android ini diperuntukkan bagi ABK tuna netra.

SUPPORT: Aplikasi berbasis Android ini diperuntukkan bagi ABK tuna netra. (RAHMAT SUDRAJAT/RADAR SURABAYA)

Share this      

Sebagai bentuk kepedulian kepada sesama, khususnya anak berkebutuhan khusus (ABK) tuna netra, tiga mahasiswa melakukan inovasi unik. Mereka menciptakan desain aplikasi Alquran khusus untuk penyandang disabilitas tersebut.

KREATIF:  Tiga mahasiswa FST Unair sukses membawa aplikasi Udzkuruni (inset) berjaya di MTQM Nasional.

KREATIF: Tiga mahasiswa FST Unair sukses membawa aplikasi Udzkuruni (inset) berjaya di MTQM Nasional. (RAHMAT SUDRAJAT/RADAR SURABAYA)

RAHMAT SUDRAJAT-Wartawan Radar Surabaya

Tiga mahasiswa itu adalah Ishardina Cholifatul Hidayat, Novinda Nalaratih, dan Via Aprilliya. Ketiganya kuliah di Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga (Unair).

Novinda mengatakan, awal mula tercetus ide menciptakan aplikasi yang diberi nama Udzkuruni tersebut karena prihatin terhadap mahalnya modul Braille. Juga karena minimnya instruktur Alquran untuk penyandang tuna netra. “Tidak semua penyandang tuna netra mampu beli modul Braille. Mau pakai jasa instruktur baca Alquran, bayarnya juga tak murah,” cerita Novinda.

Lebih lanjut ia bercerita, awalnya mereka bertiga memikirkan bagaimana caranya untuk menyiasati adanya modul Braille yang mahal harganya dan juga tenaga instruktur baca tulis Alquran yang saat ini jumlahnya sedikit. Nah, dengan keprihatinan itu, terciptalah aplikasi Udzkuruni. “Aplikasi ini murah dan mudah. Sangat membantu teman-teman ABK tuna netra,” sambungnya.  

Novinda menambahkan bahwa menurutnya saat ini banyak sekali kendala yang dihadapi para penyandang disabiltas tuna netra untuk belajar Alquran. Tak hanya yang berkaitan dengan rupiah, tapi juga yang lainnya.

“Meskipun didampingi oleh instruktur namun biaya cetak modul Braille-nya itu yang mahal,” imbuh Novinda. Dalam aplikasi Udzkuruni, ABK tuna netra dapat mengahafal pola huruf hijaiyah dengan menggunakan talkback. Sehingga dapat mempermudah dalam belajar dan menghafal.

“Talkback itu kan pembaca layar yang ada dalam perangkat Android, jadi langsung dapat memberikan masukan lisan. Sehingga pengguna dapat menggunakan perangkat tersebut tanpa melihat layar,” terangnya. 

Untuk dapat menggunakan aplikasi tersebut, pengguna atau masyarakat bisa men-download di internet. “Aplikasi tersebut sudah bisa diunduh di Google Playstore, sehingga masyarakat bisa untuk menggunakan dan memanfaatkan aplikasi tersebut. Terlebih untuk penyandang disabilitas,” ungkap Novinda.

Meski sudah bisa diunduh, namun Novinda dan tim terus mengembangkan aplikasi tersebut. Sebab, masih banyaknya fitur yang akan ditambah dalam menunjang proses belajar para penyandang tuna netra.

Aplikasi buatan tiga perempuan tersebut juga berhasil meraih peringkat 4 dalam MTQM Nasional di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh. “Kami bersyukur sekali bisa menciptakan aplikasi ini (Udzkuruni), karena tidak menyangka juga bisa meraih peringkat 4. Semoga aplikasi Uzkuruni dapat meningkatkan semangat teman-teman disabilitas untuk terus belajar dan terus dekat dengan Alquran,” pungkasnya. (*/opi)

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia