Kamis, 22 Aug 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Pemprov Targetkan Jatim 100 Persen Elektrifikasi pada 2021

13 Agustus 2019, 17: 34: 29 WIB | editor : Wijayanto

Kepala Dinas ESDM Jatim, Setiajit

Kepala Dinas ESDM Jatim, Setiajit (DOK/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA – Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) berupaya merealisasikan 100 persen masyarakat Jatim sudah menikmati listrik pada tahun 2021 mendatang. Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengatakan, hingga tahun 2017, masyarakat Jatim yang menikmati energi listrik (rasio elektrifikasi) baru mencapai 91,4 persen.

“Pemprov Jatim terus berkomitmen mengoptimalkan potensi energi non fosil di banyak titik. Salah satunya dengan memanfaatkan pengolahan, baik sampah basah ataupun sampah plastik. Pengolahan sampah plastik ini sedang dikembangkan di Mojokerto untuk menjadi energi listrik,” katanya.

Sementara itu Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jatim Setiajit menuturkan, hingga tahun ini rasio elektrifikasi sudah mencapai 96,85 persen. Menurutnya, dari tahun ke tahun Pemprov Jatim terus berupaya membantu warga untuk mendapatkan sambungan listrik. Bahkan Khofifah telah memberikan amanat agar Dinas ESDM dan stake holder membantu masyarakat miskin untuk kebutuhan listrik agar bisa digunakan sebagai usaha mikro.

Setiajit menjelaskan, sebagian masyarakat yang belum bisa menikmati listrik ini karena ada daerah yang tidak bisa dijangkau infrastruktur kelistrikan. Ia mengaku, saat ini pihaknya juga sudah memberikan solusi, yakni dengan memasang pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) di wilayah kepulauan di Madura. “Dari 1.720 kepala keluarga (KK), 1.250 KK yang sudah terpasang. Sisanya targetnya harus tuntas 2020,” ungkapnya.

Saat ditanya terkait rencana Khofifah yang ingin memanfaatkan pengelolaan sampah plastik sebagai energi listrik, Setiajit mengaku, saat ini pihaknya sedang melakukan uji coba dengan menujuk PT Megasurya Eratama sebagai mitra kerjanya. Menurutnya, kalau perusahaan ini punya power plant (pembangkit listrik) tapi dari batu bara.

“Dengan menggunakan pirolisis memanfaatkan sampah plastik ini, maka batu bara tak perlu digunakan lagi. Kita menggandeng perusahaan ini karena juga mengimpor plastik. Lah buat apa, sampah plastik di Jatim ini banyak dan bisa dikelola dengan baik hingga menghasilkan gas,” katanya.

Setiajit mengatakan, dengan menggunakan metode sanitary landfill, gas yang berasal dari sampah plastik itu bisa  digunakan untuk mendorong power plant. Di Surabaya skema sanitary landfill itu sudah jalan sebesar 1,65 megawatt. “Kemudian dibeli oleh PLN sebesar 1,2 megawatt dengan harga Rp 1.250 per kwh," pungkasnya. (mus/nur)

(sb/mus/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia