Kamis, 14 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Events Surabaya

SSC Dorong Kampung Punya Ikon dan Karakter Menonjol

13 Agustus 2019, 16: 48: 51 WIB | editor : Wijayanto

KREATIF: Sekretaris DKRTH Surabaya Ipong Wisnoewardono (kiri) melihat salah satu kerajinan kreasi warga disela-sela sosialisasi SSC 2019 di Dinoyo Tengah, Surabaya, Senin (12/8).

KREATIF: Sekretaris DKRTH Surabaya Ipong Wisnoewardono (kiri) melihat salah satu kerajinan kreasi warga disela-sela sosialisasi SSC 2019 di Dinoyo Tengah, Surabaya, Senin (12/8). (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Kampung-kampung yang mengikuti lomba Surabaya Smart City (SSC) 2019 diharapkan bisa menonjolkan karakter kawasannya masing-masing. Dengan begitu,  setelah awarding SSC usai, kampung-kampung ini menjadi kampung-kampung wisata baru di Kota Surabaya. Yang  layak menjadi jujukan wisatawan lokal maupun asing.

SPOT FOTO: Sekretaris DKRTH Surabaya Ipong Wisnoewardono (kiri) bersama kader lingkungan melihat sudut kampung Dinoyo Tengah, Surabaya, Senin (12/8).

SPOT FOTO: Sekretaris DKRTH Surabaya Ipong Wisnoewardono (kiri) bersama kader lingkungan melihat sudut kampung Dinoyo Tengah, Surabaya, Senin (12/8). (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Seperti disampaikan oleh  Sekretaris Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) Ipong Wisnoewardono dalam sosialisasi SSC 2019 di Kampung Dinoyo 2, Kelurahan Keputran, Tegalsari , kemarin (12/8). Ia berharap, dari kriteria perlombaan yang diberikan, ada satu yang ditonjolkan. Tentu disesuaikan dengan potensi dari masing-masing kampung. “ Jadi nanti tidak hanya ada Kampung Maspati. Ada kampung-kampung lain yang punya keunikan dan bisa jadi jujukan wisata,” lanjutnya.

Seperti keunikan yang dimiliki oleh Kampung Dinoyo. Yang menonjol karena menawarkan unsur kebudayaan Jawa sebagai daya tariknya. Bak kampung-kampung di Bali dan Jogja, tim DKRTH yang datang disambut oleh bunyi gamelan ketika memasuki kawasan terkait. Bahkan, pengunjung juga dipasangi udeng beserta selendang buatan UMKM warga sekitar. 

Ketua RT 02 RW 03 Lailiana Indrawati menyebutkan, nama kampung Dinoyo berasal dari kata Denojo. Yang merupakan peninggalan dari kerajaan Majapahit. Ia percaya, di daerahnya dahulu adalah wilayah tempat tinggal putri dan permaisuri. Terbukti dari adanya satu makam leluhur yang diyakini sebagai utusan dari zaman kerajaan Majapahit. “ Jadi kami buat kampung budaya, ada sejarahnya. Tidak asal buat,” paparnya.

Dengan menonjolkan nilai budaya, ia berarap kampung Dinoyo punya keunikan tersendiri dibandingkan dengan kampung lain di Surabaya. Konsep budaya ini dikembangkan dengan memasukkan poin-poin penilaian dari SSC. Di antaranya kampung bersih dan sehat, dan mmiliki circular economy yang baik.

“Kalau sudah ada karakter, pengunjung kan datang, kami harus punya oleh-oleh khas, maka kami buat udeng. Kami juga ciptakan batik yang khas Dinoyo, mengikuti pakem Mojopahit, bukan batik Suroboyoan pada umumnya,” pungkas Ipong. (is/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia